Bersahabat dengan Tebing & Dinding
ImageMENANTANG, Untuk menaklukan medan yang berat, seorang pemanjat tebing harus menguasai teknik dan butuh persiapan fisik. Di Indonesia panjat tebing/dinding terus diminati. Bahkan, aktivitas ini telah menjadi tren sekaligus olahraga tantangan yang didominasi generasi muda. Persiapan apa saja yang diperlukan?
KETINGGIAN dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan oleh sebagian besar masyarakat. Namun, penggila panjat tebing/ dinding (rock climbing) menganggap ketinggian merupakan sesuatu yang dapat dijadikan objek untuk merangsang adrenalin mereka melalui aktivitas memanjat.
Anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) Divisi Rock Climbing Dadang Sukandar mengungkapkan, panjat tebing merupakan bagian dari pendakian gunung (mountaineering). Mountaineering mengharuskan pendaki menaiki dan menuruni perbukitan.
Semakin tinggi jalur pendakian, semakin curam juga tebing yang harus didaki.Secara otomatis,dia menuturkan, dibutuhkan pula teknik-teknik yang lebih spesifik, salah satunya adalah teknik memanjat. Panjat tebing dapat diartikan sebagai pendakian pada tebing-tebing batu atau dinding karang yang membutuhkan peralatan, teknik, dan metode- metode tertentu.
Pada perkembangannya, aktivitas ini terbagi dua. Dadang menjelaskan, dilihat dari kategorinya, aktivitas memanjat dapat dibagi dua bagian, yakni panjat tebing (adventure climbing) dan panjat dinding (sport climbing). Adventure climbing merupakan aktivitas yang dilakukan dengan tujuan untuk pertualangan. Media aktivitasnya meliputi tebing-tebing di alam terbuka.
Adapun sport climbing dilakukan di media dinding atau papan buatan. Aktivitas ini biasanya dilakukan untuk menjaga stamina dan kebugaran tubuh dan lebih sering dikompetisikan. Bukan berarti adventure climbing tidak bertujuan untuk menjaga stamina tubuh. Terlepas dari teknik dan metodenya,dibandingkan panjat tebing, memanjat dinding buatan relatif lebih mudah.
Dinding buatan biasanya didirikan di lokasi-lokasi keramaian, seperti kampus, mal atau pusat olahraga. Kondisi ini berbeda dengan panjat tebing, seorang pemanjat harus melakukan perjalanan panjang untuk mencapai kaki tebing sebelum melakukan pemanjatan. Tak jarang, base camp pemanjatan harus dicapai setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari. Terlepas dari perbedaan di atas, baik panjat tebing maupun panjat dinding telah menjadi aktivitas yang populer di masyarakat, khususnya kalangan remaja.
Bagi generasi muda, aktivitas ini merupakan kegiatan positif dan konstruktif. Melalui kegiatan ini,kita dapat menggali seperangkat nilai positif yang berpotensi untuk dikembangkan, antara lain pembentukan watak dan karakter, kepribadian, memupuk jiwa sportif, dan penuh semangat juang, serta sebagai sarana alternatif untuk penyaluran bakat dan prestasi.
Selain itu, aktivitas ini juga baik untuk terapi khusus bagi mereka yang selama ini takut terhadap ketinggian. Dengan berlatih, lambat laun ketakutan akan ketinggian sedikit demi sedikit dapat dihilangkan. Ukuran kesuksesan panjat tebing/dinding ini adalah berhasil mencapai puncak tanpa terjatuh.
Namun “seni” panjat tebing/dinding ini adalah menyelesaikan masalah di saat pemanjat menempatkan tubuh, mencengkeram pegangan, dan memijakkan kakinya agar tidak terjatuh. Jika aliran gerak tubuh ini meliuk lancar, maka mereka yang di bawah akan melihatnya sebagai suatu tarian vertikal yang seakan menentang gaya tarik bumi.
Butuh Persiapan Fisik dan Mental
Semua orang bisa saja melakukan olahraga menantang ini. Tidak ada syarat khusus bagi seorang pemanjat.Meski demikian, sebagai aktivitas yang ekstrem dan penuh tantangan, panjat tebing atau panjat dinding memerlukan keberanian, keterampilan, persiapan mental, dan fisik yang prima.Tanpa mental yang baik, seseorang tidak dapat menikmati pencapaian di ketinggian yang antigravitasi ini.
Anggota Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bogor Wahyu Indrawan mengatakan, secara umum ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan sebelum melakukan panjat tebing/ dinding. Pertama adalah perlunya latihan yang dilakukan secara rutin. Kedua, penguasaan medan dan perlengkapan. ”Seperti halnya olahraga lainnya, panjat tebing juga memerlukan persiapan fisik, selain mental,” ungkap Wahyu. Fisik yang tidak prima akan menghambat proses pemanjatan.
Agar pemanjatan berjalan sukses, seorang pemanjat tebing perlu latihan agar stamina dapat tetap terjaga. Aktivitas ini tidak hanya bertumpu pada bagian kaki dan tangan. Seluruh otot yang terdapat di dalam tubuh akan bekerja sama beratnya dengan otot-otot kaki dan tangan. Persiapan fisik terbaik adalah melakukan angkat badan. Sebelumnya perlu juga dilakukan lari-lari kecil dan senam untuk memperkuat jantung dan paru-paru.
Hal yang tak kalah pentingnya adalah melatih otot jari dan lengan, otot pundak dan pangkal lengan. Karena kunci kesuksesan pemanjat dalam menyelesaikan jalur tanpa jatuh adalah kekuatan jari mencengkeram pegangan. Selain mengandalkan kekuatan fisik dan otot, aktivitas ini juga memerlukan strategi. Di dalam menyelesaikan satu rute pemanjatan, diperlukan otak untuk mengatur strategi agar puncak lebih mudah dan lebih cepat diraih.
Selain persiapan fisik dan latihan,Wahyu menambahkan, hal lain yang perlu diperhatikan sebelum memanjat adalah perlu mengetahui karakteristik tebing atau dinding tersebut sebagai jalur pemanjatan. ”Cari informasi, apakah jalur itu sudah pernah dipanjat atau belum,tingkat kesulitannya seperti apa, karena hal ini akan berpengaruh pada peralatan yang dibawa. Jika jalur tersebut belum pernah dipanjat, tentunya memerlukan peralatan yang lebih spesifik lagi,” ungkapnya.
Berkembang Bersama Pendakian Gunung
ImagePANJAT tebing atau panjat dinding tak lepas dari kegiatan pendakian gunung (mountaineering). Di saat mereka mencapai ketinggian tertentu, maka akan dibutuhkan teknikteknik pendakian khusus dengan cara memanjat.
Kegiatan mendaki gunung yang dibarengi teknik memanjat sebenarnya telah dilakukan manusia sejak berabad-abad lalu. Sejarah mencatat ketika pada 1786 Dr Paccard berhasil mencapai puncak Mount Blanc (4.087 meter dpl). Pada masa itu pendakian dan panjat tebing sudah menjadi hobi atau olahraga.
Selanjutnya, puncak-puncak pegunungan Alpen yang dikenal sebagai puncak yang hanya dapat didaki mempergunakan teknik- teknik memanjat tebing, mulai didaki orang. Hingga akhirnya, Edmunt Hillary dan Tenzing Norgay dalam suatu ekspedisi yang dipimpin John Hunt pada 1953 berhasil memuncaki Everest, sebuah puncak yang menjadi impian para pendaki di dunia.
Untuk mencapai puncak,mereka harus memanjat tebing. Sama halnya di Indonesia, panjat tebing seiring dengan berkembangnya teknik mendaki. Klub Gladian Pencinta Alam pada sekitar 1975 melakukan pertemuan dengan para pencinta alam di Gunung Citatah, Padalarang, Jawa Barat, mulai mengajarkan teknik panjat dan turun tebing.
Satu tahun kemudian, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB Harry Suliztiarto memperkenalkan panjat tebing di tempat yang sama. Kegiatan ini kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya organisasi alam bebas yang mengkhususkan pada kegiatan memanjat. Bersama tiga rekan sesama mahasiswa ITB, ia mendirikan Skygers Amateur Rock Climbing Group.
Seiring perkembangannya, Skygers mulai membuka kursus panjat tebing yang disambut antusiasme para pemanjat dari berbagai provinsi dan berhasil menyebarluaskan olahraga panjat tebing di Indonesia. Pada 1980 panjat tebing memasuki era baru, pada masa ini kegiatan ini bukan lagi bersifat petualangan, tetapi telah menjadi olahraga prestasi. Perkembangan ini dimulai saat digelar lomba panjat tebing alam di tebing Pantai Jimbaran, Bali, pada 1987.
Kemudian pada 1988,empat pemanjat asal Prancis memperkenalkan panjat tebing buatan (wall climbing) di Indonesia, yang didukung dan diprakarsai oleh Menpora dan Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia. Pada kesempatan tersebut dibentuk pula wadah sebagai tempat menyalurkan aspirasi dan hobi kegiatan panjat tebing di Indonesia, dengan nama Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Ketuanya adalah Harry Suliztiarto– pemanjat legendaris yang sempat merayapi atap Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Pada 1990, untuk pertama kalinya diadakan lomba panjat dinding buatan, dengan tinggi papan 15 meter yang menjadi awal sejarah dimulainya lomba panjat tebing buatan di Indonesia sampai saat ini. Sejak persentuhan tersebut, panjat dinding terus berkembang. Tiap tahun popularitasnya menunjukkan grafik yang menaik.
Dari Pulau Jawa, kegiatan ini menyebar ke berbagai daerah. Pada 1991, digelar kejuaraan nasional panjat dinding yang pertama di Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya ada kejuaraan dan diikuti pemanjat se-Indonesia, tetapi julukannya belum lagi kejuaraan nasional dan diselenggarakan di Jawa dan Bali saja.
Menyiasati Peralatan Mahal
ImageUNTUK melakukan hobi ini diperlukan beberapa peralatan khusus yang wajib dipakai selama pemanjatan. Anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) Divisi Rock Climbing Dadang Sukandar mengatakan, peralatan wajib yang diperlukan adalah tali kermantle, pasak atau paku tebing, sisi pegas, figure of 8 (descender), Gri-gri, carabiner screw gate, carabiner gate, carabiner bent gate, serta runner (dua carabiner gate dan bent gate yang disatukan dengan memakai quickdraw sling).
Namun, untuk para pemanjat pemula, alatalat tersebut tidak semuanya harus dimiliki.Paling tidak, mereka bisa memiliki webing, harness, dan sepatu sebagai peralatan awal memanjat. Peralatan tambahan lainnya adalah chalk bag dan magnesium karbonat yang berfungsi untuk menjaga tangan agar terhindar dari keringat. Setiap alat mempunyai kapasitas dan kekuatan yang terukur. Ada acuan angka yang menunjukkan kesanggupan alat untuk menahan beban.
Sebagai contoh, carabiner (cincin kait) sanggup memikul beban sampai 2.500 kg atau harness (pengaman tubuh) dengan kekuatan 1.500 kg. Dadang melanjutkan, karena olahraga ini disertifikasi tingkat keamanannya, peralatan yang diperlukan harus disesuaikan pula dengan keamanan si pemanjat. Selain itu, di Indonesia sendiri belum banyak perusahaan yang memproduksi peralatan panjat ini sehingga sebagian besar masih harus diimpor.
Hal ini menyebabkan harga peralatan tersebut menjadi mahal. Anggota Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bogor Wahyu Indrawan mengatakan, untuk harness saja dapat mencapai harga Rp600.000–Rp700.000, sedangkan tali kermantle per 50 meter mampu mencapai harga Rp1,2 juta–Rp1,5 juta.“Khusus untuk sepatu panjat, sudah banyak beredar sepatu panjat buatan lokal seperti dari Bandung atau Surabaya,” ungkap Wahyu.
Untuk menyiasati harga peralatan yang tergolong tinggi, Dadang Sukandar menuturkan, biasanya alat-alat tersebut disiasati para pemanjat secara kolektif. “Di antara klub-klub pemanjat biasanya mereka patungan untuk beli alat,” ujar Dadang.
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan
Image1.Dapatkan informasi yang up-to-date mengenai tebing dan lokasi pemanjatan jauh-jauh hari sebelum perjalanan dimulai.
2. Jika ada penutupan akses ke tebing panjat,jangan dilanggar dan cari tempat lain untuk dipanjat.
3. Gunakan jalan setapak yang sudah ada meskipun lebih jauh dan lebih lama untuk dicapai. Jangan membuat jalan pintas baru yang hanya akan mengakibatkan timbulnya erosi tanah.
4. Berkemahlah di tempat yang telah disediakan atau yang biasa digunakan.
5. Gunakan kapur magnesium seperlunya. 6.Turuti aturan, tradisi, etika kampung sekitar di mana kamu memanjat. Hormati kuncen/ kepala desa dan ramah-tamahlah dengan penduduk sekitar.
sumber : http://catros.wordpress.com/2007/05/08/bersahabat-dengan-tebing-dinding/
28 April 2011
Memilih Petualanganmu
Waktu yang dihabiskan secara seksama untuk merencanakan suatu perjalanan petualangan tidaklah pernah terbuang percuma. Rencanakan dulu, sebelum kamu menetapkan tanggal keberangkatanmu, tentukan setiap pilihan. Kamu mungkin perlu belajar pelatihan pertolongan pertama, rencanakan jadual latihan kebugaran, atur keuanganmu, pilih dan beli perlengkapan, dsb.
Memilih Petualanganmu…
Petualangan sangat mengasyikan apabila kamu telah mengadakan penelitian tujuanmu secara seksama dan tahu mengapa kamu akan pergi kesana. Setelah memutuskan aktifitasmu, kamu meneliti lokasi mana dan petualangan macam apa yang mempunyai pilihan paling menarik.
Mendaki Gunung (Mountaineering):
Selidiki dalam buku petunjuk gambar foto-foto gunung yang benar-benar ingin kamu daki. Tetapi berhati-hatilah terhadap pengaruh ketinggian dan tetaplah pada kemampuanmu.
Memanjat Tebing (Rock Climbing):
Banyak-banyak latihan dalam keadaan fasilitas darurat sebelum kamu mempertimbangkan untuk memanjat tebing di beberapa daerah. Pelajari dengan benar daerah yang ingin kamu kunjungi itu.
Arung Jeram (rafting):
Beberapa daerah di Indonesia menawarkan fasilitas yang sangat baik sekali untuk eksplorasi/ penjelajahan sungai. Selalu periksa perlengkapan perahu, dan jaket penyelamat secara seksama sebelum melakukan aktifitas ini.
Penyelusuran Gua (Caving):
Periksa daerah dan teliti jenis gua yang ingin kami telusuri.
Menentukan Waktu Perjalananmu.
Faktor Iklim:
Selain detail temperatur (baik siang maupun malam) dan turunnya hujan selama waktu yang kamu habiskan di suatu lokasi, di beberapa daerah kamu harus belajar kapan kejadian-kejadian iklim tertentu diharapkan.
Tetap Sehat
Menjaga kesehatan merupakan tanggun-jawabmu yang paling penting. Selalu bawa perlengkapan pertolongan pertama untuk merawat keluhan-keluhan kecil.
Mempersiapkan Diri
Pastikan mulai berlatih dulu. Latihan yang terus-menerus membantu meningkatkan kelenturan, dan latihan-latihan aerobik seperti berenang meningkatkan efisiensi jantung dan paru-parumu. Berlatih beban menambah kekuatan kaki dan tangan, bahu dan punggungmu.
Membawa Ranselmu…
Biasakan membawa ranselmu ketika berjalan-jalan, tambahkan baik jarak kamu berjalan maupun berat yang kamu bawa. Gunakan sepatu boot dan berjalanlah dengan cepat. Hindari berlari dengan ranselmu karena kamu dapat melukai lutut dan punggungmu.
Latihan Berjalan
Gunakan latihan berjalan untuk membiasakan dirimu cocok/pas dengan ranselmu, pakaian luar rumahmu (outdoor clothing) dan sepatu boot-mu. Mulailah dengan berjalan hanya beberapa kilometer. Ketika berjalan siang hari dapat dilakukan dengan mudah, latihlah keahlian/kepandaian navigasimu, mulailah di daerah yang sangat kamu kenal/familiar.
Mengatur Perlengkapanmu
Sebelum memulai perjalananmu, buatlah daftar barang-barangmu, timbang berat perlengkapanmu. Kemas perlengkapanmu secara terpisah menurut fungsinya, dan letakkan semuanya di dalam ranselmu.
Berjumpa dengan Orang-orang
Berhubungan dengan orang-orang yang sangat berbeda dengan dirimu merupakan kesenangan perjalanan. Jangan mempunyai prasangka bagaimana mereka seharusnya, tapi hormatilah mereka sebagaimana mereka. Hormatilah agama-agama setempat, di beberapa daerah, kamu dapat meningkatkan tempat menetapmu dengan membayar hormatmu pada kepala desa setempat dan hilangkanlah kecurigaan yang mungkin dimiliki oleh masyarakat/komunitas setempat terhadap dirimu.
Menyesuaikan diri pada Ketinggian
Cara terbaik menyesuaikan diri pada iklim tinggi diketinggian adalah naik secara bertahap dan dimuati secara ringan, olehkarenanya lalukan latihan secara ringan sementara perlahan-lahan mencapai ketinggian. Tubuh mengimbangi udara yang makin menipis dengan mengeluarkan sel-sel darah merah ekstra daripada menambah oksigen ke otak. Jika kamu pernah mengalami sakit, turun ke ketinggian yang lebih rendah adalah penyembuhan yang alamiah dan aman, daripada terpaksa minum obat seperti diamox (acetazolamide).
Mandi
Sebelum masuk ke sungai, periksa hulu sungai karena pembuangan air terjun atau sumber-sumber lainnya mencelakakan mikro-organisma. Cobalah untuk tidak menelan air apapun. Jangan pernah menyelam tanpa mengecek dahulu kedalaman dan mencari bahaya/resiko bawah air.
(sumber:hijau adventure gear)
Memilih Petualanganmu…
Petualangan sangat mengasyikan apabila kamu telah mengadakan penelitian tujuanmu secara seksama dan tahu mengapa kamu akan pergi kesana. Setelah memutuskan aktifitasmu, kamu meneliti lokasi mana dan petualangan macam apa yang mempunyai pilihan paling menarik.
Mendaki Gunung (Mountaineering):
Selidiki dalam buku petunjuk gambar foto-foto gunung yang benar-benar ingin kamu daki. Tetapi berhati-hatilah terhadap pengaruh ketinggian dan tetaplah pada kemampuanmu.
Memanjat Tebing (Rock Climbing):
Banyak-banyak latihan dalam keadaan fasilitas darurat sebelum kamu mempertimbangkan untuk memanjat tebing di beberapa daerah. Pelajari dengan benar daerah yang ingin kamu kunjungi itu.
Arung Jeram (rafting):
Beberapa daerah di Indonesia menawarkan fasilitas yang sangat baik sekali untuk eksplorasi/ penjelajahan sungai. Selalu periksa perlengkapan perahu, dan jaket penyelamat secara seksama sebelum melakukan aktifitas ini.
Penyelusuran Gua (Caving):
Periksa daerah dan teliti jenis gua yang ingin kami telusuri.
Menentukan Waktu Perjalananmu.
Faktor Iklim:
Selain detail temperatur (baik siang maupun malam) dan turunnya hujan selama waktu yang kamu habiskan di suatu lokasi, di beberapa daerah kamu harus belajar kapan kejadian-kejadian iklim tertentu diharapkan.
Tetap Sehat
Menjaga kesehatan merupakan tanggun-jawabmu yang paling penting. Selalu bawa perlengkapan pertolongan pertama untuk merawat keluhan-keluhan kecil.
Mempersiapkan Diri
Pastikan mulai berlatih dulu. Latihan yang terus-menerus membantu meningkatkan kelenturan, dan latihan-latihan aerobik seperti berenang meningkatkan efisiensi jantung dan paru-parumu. Berlatih beban menambah kekuatan kaki dan tangan, bahu dan punggungmu.
Membawa Ranselmu…
Biasakan membawa ranselmu ketika berjalan-jalan, tambahkan baik jarak kamu berjalan maupun berat yang kamu bawa. Gunakan sepatu boot dan berjalanlah dengan cepat. Hindari berlari dengan ranselmu karena kamu dapat melukai lutut dan punggungmu.
Latihan Berjalan
Gunakan latihan berjalan untuk membiasakan dirimu cocok/pas dengan ranselmu, pakaian luar rumahmu (outdoor clothing) dan sepatu boot-mu. Mulailah dengan berjalan hanya beberapa kilometer. Ketika berjalan siang hari dapat dilakukan dengan mudah, latihlah keahlian/kepandaian navigasimu, mulailah di daerah yang sangat kamu kenal/familiar.
Mengatur Perlengkapanmu
Sebelum memulai perjalananmu, buatlah daftar barang-barangmu, timbang berat perlengkapanmu. Kemas perlengkapanmu secara terpisah menurut fungsinya, dan letakkan semuanya di dalam ranselmu.
Berjumpa dengan Orang-orang
Berhubungan dengan orang-orang yang sangat berbeda dengan dirimu merupakan kesenangan perjalanan. Jangan mempunyai prasangka bagaimana mereka seharusnya, tapi hormatilah mereka sebagaimana mereka. Hormatilah agama-agama setempat, di beberapa daerah, kamu dapat meningkatkan tempat menetapmu dengan membayar hormatmu pada kepala desa setempat dan hilangkanlah kecurigaan yang mungkin dimiliki oleh masyarakat/komunitas setempat terhadap dirimu.
Menyesuaikan diri pada Ketinggian
Cara terbaik menyesuaikan diri pada iklim tinggi diketinggian adalah naik secara bertahap dan dimuati secara ringan, olehkarenanya lalukan latihan secara ringan sementara perlahan-lahan mencapai ketinggian. Tubuh mengimbangi udara yang makin menipis dengan mengeluarkan sel-sel darah merah ekstra daripada menambah oksigen ke otak. Jika kamu pernah mengalami sakit, turun ke ketinggian yang lebih rendah adalah penyembuhan yang alamiah dan aman, daripada terpaksa minum obat seperti diamox (acetazolamide).
Mandi
Sebelum masuk ke sungai, periksa hulu sungai karena pembuangan air terjun atau sumber-sumber lainnya mencelakakan mikro-organisma. Cobalah untuk tidak menelan air apapun. Jangan pernah menyelam tanpa mengecek dahulu kedalaman dan mencari bahaya/resiko bawah air.
(sumber:hijau adventure gear)
Berburu “Seven Summits” di Nusantara
Berburu “Seven Summits” di Nusantara
Pegunungan adalah tempat paling kuat di Bumi,
dan menuntut penghormatan tertinggi
(Erik Weihenmayer)
Nama “Seven Summits” telah lama dikenal dalam dunia pendakian gunung di dunia dan disebut-sebut sebagai sebuah grand slam penjelajahan yang sebenarnya. Petualangan ekstrem ini merupakan pendakian puncak-puncak tertinggi di setiap benua.
Ketika Mount Everest sebagai puncak tertinggi di dunia telah banyak didaki, orang bertanya-tanya pendakian spektakuler apalagi yang dapat dibuat oleh umat manusia dalam menantang keperkasaan alam. Maka lahirlah ekspedisi-ekspedisi dari berbagai negara termasuk Indonesia yang terobsesi dengan grand slam penjelajahan ini.
Sekian puncak yang wajib didaki adalah Mc Kinley (6.194 m) di Amerika Utara, Aconcagua (6.960 m) di Amerika Selatan, Kilimanjaro (5.895 m) di Afrika, El’brus (5.642 m) di Eropa, Vinson Massif (4.897 m) di Antartika, dan tentunya Everest (8.848 m) di Asia. Sedangkan satu lagi puncak yang dianggap mewakili lempengan Australia-Oseania mempunyai beberapa pilihan yang sama mendebarkan, yaitu Cartenz Pyramid di Pulau Papua, Mount Cook di Selandia Baru, atau Kosclusko di Australia.
“Seven summits” nusantara
Bagi para pecinta kegiatan mendaki gunung amatir dan wisatawan, mimpi “Seven Summits” ini tentunya cukup mustahil untuk dilaksanakan mengingat diperlukan skill, persiapan dan biaya yang maksimum. Bahkan walaupun semuanya telah terpenuhi, faktor alam seringkali menjadi penentu keberhasilan. Sejarah mencatat banyak pendaki profesional yang gagal bahkan gugur di medan perjuangannya yang terakhir di gunung-gunung tersebut.
Namun pendaki amatir dan wisatawan di Indonesia yang tetap mempunyai obsesi “Seven Summits” dapat mewujudkan keinginannya tersebut dengan skala yang lebih kecil, yaitu dalam kawasan Kepulauan Nusantara tercinta ini. Dengan sedikit romantisme, kita dapat mempersatukan seluruh kepulauan ini dengan mengoleksi puncak-puncak tertinggi di pulau-pulau di Nusantara.
Beberapa gunung tujuan misalnya Semeru di Jawa, Kerinci di Sumatera, Latimojong di Sulawesi, Binaiya di Maluku, Rinjani di Nusa Tenggara, Kinabalu di Kalimantan, dan tentunya Carstenz Pyramid di Papua. Ketujuh puncak itu memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi –bahkan beberapa dapat dinaiki tanpa memerlukan skill dan pengalaman yang terlampau tinggi. Tentunya asalkan memiliki kesehatan dan kebugaran yang cukup prima untuk mendaki gunung daerah tropis. Bahkan Kinabalu di Malaysia sudah dikelola sedemikian rupa sehingga menjamin suatu perjalanan pendakian yang menyenangkan.
Kecuali Carstenz Pyramid, rata-rata keenam puncak memiliki jalur yang tipikal. Suasana tropis dan jalur utama pendakian cukup memadai bagi wisatawan yang ingin mendakinya. Yang perlu diperhatikan adalah kecermatan dalam memprediksi kondisi alam dan jalan setapak yang dilalui. Pada jalur pendakian di Latimojong, misalnya, vegetasi lumut masih banyak dijumpai merundung jalur pendakian, sehingga tak sejelas jalur pendakian di Semeru. Juga kerimbunan dan kecuraman jalur pendakian di Kerinci tentunya kontras berbeda dengan jalur pendakian umumnya di Rinjani yang gersang (jalur Sembalun).
Perburuan puncak
Keenam puncak selain Carstenz Pyramid di Papua adalah puncak-puncak yang lebih memungkinkan dan mudah untuk didaki. Mari kita telusuri persiapan-persiapan yang diperlukan untuk mencapainya. Sedangkan pendakian Carstenz Pyramid dengan salju abadinya lebih memerlukan persiapan dan skill dibandingkan yang lain sehingga sangat cocok untuk dijadikan closing climbing dengan pembahasan yang lebih memadai di lain kesempatan.
Persiapan yang diperlukan peminat adalah terlebih dahulu mengumpulkan informasi-informasi yang diperlukan baik dari literatur atau rekomendasi sejawat. Sebagai contoh Kinabalu merupakan taman nasional yang dikelola secara profesionnal dan mempunyai aturan cukup ketat yang harus diikuti. Perjalanan ke sana harus didukung keuangan yang memadai. Jalur pendakian normal memakan waktu 2–3 hari untuk sampai ke puncak.
Perbekalan menjadi hal yang kritis selama pendakian. Pendaki sedapat mungkin mempunyai informasi yang akurat mengenai jalur pendakian terutama tempat–tempat yang tersedia sumber air alami. Terkadang sumber air alami (bukan curahan hujan) yang tersedia sangat jauh dari base camp sehingga amat bijak apabila dalam logistik kita selalu ada persediaaan air yang cukup. Namun hal-hal tersebut kiranya tidak perlu dirisaukan di Kinabalu karena telah tersedia akomodasi yang memadai.
Tak kalah pentingnya adalah memilih rekan satu tim yang nantinya akan bahu-membahu dalam pendakian agar tercipta sebuah perjalanan yang menyenangkan. Terlebih lagi apabila perjalanan akan memakan waktu yang lama karena jauhnya tempat yang dituju. Bila diperlukan di Rinjani dan Kinabalu selalu tersedia porter atau guide yang siap membantu pendakian dengan upah yang wajar.
Adalah sikap yang bijak untuk senantiasa ramah dan bersosialisaisi dengan penduduk di tempat mulainya pendakian. Akan sangat bermanfaat bila kita beristirahat terlebih dahulu di desa terakhir sebelum memulai pendakian. Di Kerinci, Rinjani, dan Kinabalu telah banyak tersedia pesanggrahan di kaki gunung bagi yang ingin beristirahat.
Banyak yang bisa digali dari sosialisasi dengan masyarakat sekitar kaki pegunungan selain persahabatan. Kita bisa mengumpulkan informasi yang diperlukan seperti sumber mata air, cerita-cerita legenda, kondisi alam serta flora fauna sekitar gunung. Dari pengalaman penulis, penduduk desa akan memberikan bantuan lebih dari yang sekedar diharapkan apabila kita dapat melakukan pendekatan yang tepat. Bahkan kerap kita tak dapat membayangkan bagaimana membalas kebaikan mereka kelak.
Pulang dengan selamat
Perlu disadari pendakian gunung bukanlah olahraga yang mudah. Selain dibutuhkan respek terhadap alam, juga diperlukan kearifan untuk mengukur kemampuan sendiri. Pendakian maraton beberapa gunung sekaligus dalam waktu berdekatan bukanlah hal yang bijak. Manusia adalah mahluk sosial yang senantiasa rindu kepada masyarakatnya. Ambisi yang tidak wajar hanya akan menumbuhkan sikap anti sosial, sesuatu yang sayangnya terkadang menjangkiti para pendaki.
Kondisi fisik yang tidak prima akan menjadi hambatan utama perburuan puncak. Kelelahan dan turunnya kondisi tubuh akan segera dirasakan. Daya tahan terhadap cuaca pun menjadi sangat rentan. Demikian pula kondisi psikis yang merindukan suasana sosial akan menjadikan perjalanan kurang menyenangkan karena perasaan ingin cepat pulang begitu mendominasi. Perasaan takabur karena merasa telah berpengalaman pun menjadi musuh yang tak kurang berbahaya.
Wisatawan dan penggemar olahraga mendaki gunung dapat menjadikan puncak-puncak pulau sebagai suatu perburuan yang menyenangkan dengan suasana kompetisi yang penuh persahabatan. Pada saat-saat mendekati puncak, tiada ada yang lebih indah selain bertemu dengan sesama pendaki lain. Itulah persahabatan yang sulit dilukiskan. Tanpa pernah bertemu atau menyapa, tiba-tiba saja senyuman dan sapaan begitu mudah terlontar. Jauh sekali dengan suasana perkotaaan yang hampa dari keramahan.
Kalangan penggiat kegiatan outdoor dan wisatawan penggemar olahraga mendaki gunung dapat merangkaikan petualangannya menjadi sebuah bunga rampai perjalanan yang menebarkan wangi semangat keindonesiaan yang kental. Ibarat lembaran-lembaran khazanah berharga yang bila dirangkum akan menjelmakan sebuah magnum opus bagi penghayatnya. Sebuah tantangan petualangan yang sulit diabaikan begitu saja…
SUMBER : http://catros.wordpress.com/2007/06/14/berburu-%E2%80%9Cseven-summits%E2%80%9D-di-nusantara/
Pegunungan adalah tempat paling kuat di Bumi,
dan menuntut penghormatan tertinggi
(Erik Weihenmayer)
Nama “Seven Summits” telah lama dikenal dalam dunia pendakian gunung di dunia dan disebut-sebut sebagai sebuah grand slam penjelajahan yang sebenarnya. Petualangan ekstrem ini merupakan pendakian puncak-puncak tertinggi di setiap benua.
Ketika Mount Everest sebagai puncak tertinggi di dunia telah banyak didaki, orang bertanya-tanya pendakian spektakuler apalagi yang dapat dibuat oleh umat manusia dalam menantang keperkasaan alam. Maka lahirlah ekspedisi-ekspedisi dari berbagai negara termasuk Indonesia yang terobsesi dengan grand slam penjelajahan ini.
Sekian puncak yang wajib didaki adalah Mc Kinley (6.194 m) di Amerika Utara, Aconcagua (6.960 m) di Amerika Selatan, Kilimanjaro (5.895 m) di Afrika, El’brus (5.642 m) di Eropa, Vinson Massif (4.897 m) di Antartika, dan tentunya Everest (8.848 m) di Asia. Sedangkan satu lagi puncak yang dianggap mewakili lempengan Australia-Oseania mempunyai beberapa pilihan yang sama mendebarkan, yaitu Cartenz Pyramid di Pulau Papua, Mount Cook di Selandia Baru, atau Kosclusko di Australia.
“Seven summits” nusantara
Bagi para pecinta kegiatan mendaki gunung amatir dan wisatawan, mimpi “Seven Summits” ini tentunya cukup mustahil untuk dilaksanakan mengingat diperlukan skill, persiapan dan biaya yang maksimum. Bahkan walaupun semuanya telah terpenuhi, faktor alam seringkali menjadi penentu keberhasilan. Sejarah mencatat banyak pendaki profesional yang gagal bahkan gugur di medan perjuangannya yang terakhir di gunung-gunung tersebut.
Namun pendaki amatir dan wisatawan di Indonesia yang tetap mempunyai obsesi “Seven Summits” dapat mewujudkan keinginannya tersebut dengan skala yang lebih kecil, yaitu dalam kawasan Kepulauan Nusantara tercinta ini. Dengan sedikit romantisme, kita dapat mempersatukan seluruh kepulauan ini dengan mengoleksi puncak-puncak tertinggi di pulau-pulau di Nusantara.
Beberapa gunung tujuan misalnya Semeru di Jawa, Kerinci di Sumatera, Latimojong di Sulawesi, Binaiya di Maluku, Rinjani di Nusa Tenggara, Kinabalu di Kalimantan, dan tentunya Carstenz Pyramid di Papua. Ketujuh puncak itu memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi –bahkan beberapa dapat dinaiki tanpa memerlukan skill dan pengalaman yang terlampau tinggi. Tentunya asalkan memiliki kesehatan dan kebugaran yang cukup prima untuk mendaki gunung daerah tropis. Bahkan Kinabalu di Malaysia sudah dikelola sedemikian rupa sehingga menjamin suatu perjalanan pendakian yang menyenangkan.
Kecuali Carstenz Pyramid, rata-rata keenam puncak memiliki jalur yang tipikal. Suasana tropis dan jalur utama pendakian cukup memadai bagi wisatawan yang ingin mendakinya. Yang perlu diperhatikan adalah kecermatan dalam memprediksi kondisi alam dan jalan setapak yang dilalui. Pada jalur pendakian di Latimojong, misalnya, vegetasi lumut masih banyak dijumpai merundung jalur pendakian, sehingga tak sejelas jalur pendakian di Semeru. Juga kerimbunan dan kecuraman jalur pendakian di Kerinci tentunya kontras berbeda dengan jalur pendakian umumnya di Rinjani yang gersang (jalur Sembalun).
Perburuan puncak
Keenam puncak selain Carstenz Pyramid di Papua adalah puncak-puncak yang lebih memungkinkan dan mudah untuk didaki. Mari kita telusuri persiapan-persiapan yang diperlukan untuk mencapainya. Sedangkan pendakian Carstenz Pyramid dengan salju abadinya lebih memerlukan persiapan dan skill dibandingkan yang lain sehingga sangat cocok untuk dijadikan closing climbing dengan pembahasan yang lebih memadai di lain kesempatan.
Persiapan yang diperlukan peminat adalah terlebih dahulu mengumpulkan informasi-informasi yang diperlukan baik dari literatur atau rekomendasi sejawat. Sebagai contoh Kinabalu merupakan taman nasional yang dikelola secara profesionnal dan mempunyai aturan cukup ketat yang harus diikuti. Perjalanan ke sana harus didukung keuangan yang memadai. Jalur pendakian normal memakan waktu 2–3 hari untuk sampai ke puncak.
Perbekalan menjadi hal yang kritis selama pendakian. Pendaki sedapat mungkin mempunyai informasi yang akurat mengenai jalur pendakian terutama tempat–tempat yang tersedia sumber air alami. Terkadang sumber air alami (bukan curahan hujan) yang tersedia sangat jauh dari base camp sehingga amat bijak apabila dalam logistik kita selalu ada persediaaan air yang cukup. Namun hal-hal tersebut kiranya tidak perlu dirisaukan di Kinabalu karena telah tersedia akomodasi yang memadai.
Tak kalah pentingnya adalah memilih rekan satu tim yang nantinya akan bahu-membahu dalam pendakian agar tercipta sebuah perjalanan yang menyenangkan. Terlebih lagi apabila perjalanan akan memakan waktu yang lama karena jauhnya tempat yang dituju. Bila diperlukan di Rinjani dan Kinabalu selalu tersedia porter atau guide yang siap membantu pendakian dengan upah yang wajar.
Adalah sikap yang bijak untuk senantiasa ramah dan bersosialisaisi dengan penduduk di tempat mulainya pendakian. Akan sangat bermanfaat bila kita beristirahat terlebih dahulu di desa terakhir sebelum memulai pendakian. Di Kerinci, Rinjani, dan Kinabalu telah banyak tersedia pesanggrahan di kaki gunung bagi yang ingin beristirahat.
Banyak yang bisa digali dari sosialisasi dengan masyarakat sekitar kaki pegunungan selain persahabatan. Kita bisa mengumpulkan informasi yang diperlukan seperti sumber mata air, cerita-cerita legenda, kondisi alam serta flora fauna sekitar gunung. Dari pengalaman penulis, penduduk desa akan memberikan bantuan lebih dari yang sekedar diharapkan apabila kita dapat melakukan pendekatan yang tepat. Bahkan kerap kita tak dapat membayangkan bagaimana membalas kebaikan mereka kelak.
Pulang dengan selamat
Perlu disadari pendakian gunung bukanlah olahraga yang mudah. Selain dibutuhkan respek terhadap alam, juga diperlukan kearifan untuk mengukur kemampuan sendiri. Pendakian maraton beberapa gunung sekaligus dalam waktu berdekatan bukanlah hal yang bijak. Manusia adalah mahluk sosial yang senantiasa rindu kepada masyarakatnya. Ambisi yang tidak wajar hanya akan menumbuhkan sikap anti sosial, sesuatu yang sayangnya terkadang menjangkiti para pendaki.
Kondisi fisik yang tidak prima akan menjadi hambatan utama perburuan puncak. Kelelahan dan turunnya kondisi tubuh akan segera dirasakan. Daya tahan terhadap cuaca pun menjadi sangat rentan. Demikian pula kondisi psikis yang merindukan suasana sosial akan menjadikan perjalanan kurang menyenangkan karena perasaan ingin cepat pulang begitu mendominasi. Perasaan takabur karena merasa telah berpengalaman pun menjadi musuh yang tak kurang berbahaya.
Wisatawan dan penggemar olahraga mendaki gunung dapat menjadikan puncak-puncak pulau sebagai suatu perburuan yang menyenangkan dengan suasana kompetisi yang penuh persahabatan. Pada saat-saat mendekati puncak, tiada ada yang lebih indah selain bertemu dengan sesama pendaki lain. Itulah persahabatan yang sulit dilukiskan. Tanpa pernah bertemu atau menyapa, tiba-tiba saja senyuman dan sapaan begitu mudah terlontar. Jauh sekali dengan suasana perkotaaan yang hampa dari keramahan.
Kalangan penggiat kegiatan outdoor dan wisatawan penggemar olahraga mendaki gunung dapat merangkaikan petualangannya menjadi sebuah bunga rampai perjalanan yang menebarkan wangi semangat keindonesiaan yang kental. Ibarat lembaran-lembaran khazanah berharga yang bila dirangkum akan menjelmakan sebuah magnum opus bagi penghayatnya. Sebuah tantangan petualangan yang sulit diabaikan begitu saja…
SUMBER : http://catros.wordpress.com/2007/06/14/berburu-%E2%80%9Cseven-summits%E2%80%9D-di-nusantara/
Berambisi Terhebat di Peralatan Outdoor
Berambisi Terhebat di Peralatan Outdoor
Sebagai pecinta alam, ia tak hanya jago memanjat tebing dan gunung-gunung tertinggi di Indonesia, tapi juga lihai mengolah hobinya menjadi bisnis yang menggiurkan. Ia pun berambisi menjadi pemain terhebat di bisnis perlengkapan outdoor dan keselamatan kerja.
.Sebidang tanah seluas 2.500 m2 di Jl. Raya Ciledug dan sejumlah rumah tua di atasnya tampak sedang dibenahi beberapa tukang bangunan. Di satu bagian tampak tiang dan dinding baru berbeton tinggi. Tanah ini sebelumnya milik seorang pengusaha carter pesawat terbang, tapi kini beralih ke tangan Alfi Hendry. “Di atas lahan ini saya akan membangun sebuah toko besar untuk perlengkapan kegiatan dan gym outdoor terbesar di Asia Pasifik,” ujar sang distributor sejumlah merek peralatan outdoor dan keselamatan kerja – sebagian besar produk impor – di bawah payung CV Tandike. Dengan pinjaman bank, bangunan itu rencananya berdiri pada 2010.
Di sisi lain, Toko Andike yang membelakangi areal tanah itu penuh dengan barang dagangan. “Bagi saya, toko ini sekarang seperti gudang,” ujar drop out Sekolah Tinggi Manajemen Industri, Jakarta ini sedikit berseloroh. Diungkapkannya, keberadaan toko besar tersebut untuk memenuhi keinginannya memiliki sebuah tempat yang nyaman dan luas, sehingga memungkinkan konsumen untuk mengecek perlengkapan outdoor yang akan dibeli. Contohnya, tempat tracking untuk sepeda gunung, kolam kecil untuk tes perahu, dan walk climbing.
Melihat penampilan pria kelahiran Padang 27 Januari 1973 ini, orang mungkin akan terkecoh. Perawakannya yang semampai, sepatu gunung, celana jins dan T-shirt yang dikenakannya, membuatnya lebih terlihat sebagai pecinta alam ketimbang businessman. Baginya, hobi dan bisnis memang bisa berjalan bersamaan, kecuali kuliah. “Saya kuliah sampai semester 12 dan keluar pada 1998, bukan karena bisnis tapi karena naik gunung,” ujar pria yang baru saja naik gunung tertinggi di Indonesia dan ketiga termahal di dunia, Cartenz Pyramids di Papua ini.
Meski kerap naik gunung, bisnisnya berjalan baik. Bermula dari pedagang produk kegiatan outdoor dengan sebuah toko berukuran 2 x 3 meter di Cempaka Putih, Jakarta, pada 1996, kini Alfi menjadi distributor sejumlah merek perlengkapan outdoor asing. Produk-produk terkenal asal Prancis, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Brasil dan Swedia itu antara lain bermerek Beal, Petzl, Lafuma, Millet, Karrimor, Trangia, Tramontina, Nalgene, Bufo, Boreal, Camp, Deuter, dan Fadears. Produknya meliputi tas, tenda, tali, sleeping bag, perahu karet, gelas tahan pecah, kompor, sandal dan sepatu naik gunung, rain coat, matras, ascender, descender, pulley, sling sampai helm. Ia juga menjual sejumlah merek lokal seperti Eager, Giant dan Consina, yang menyediakan perlengkapan kegiatan outdoor (topi, tas ransel, dompet, sandal, baju sampai celana) dan tas ransel sekolah.
Alfi terus mengikuti kegiatan pecinta alam dan terlibat dalam komunitasnya, tak hanya sebagai hobi melainkan juga dalam rangka mengembangkan usaha dan produk yang dijualnya. Sebenarnya, menjadi pengusaha bukanlah cita-cita Alfi. Semuanya mengalir seperti air. Yang mendorongnya mendirikan toko karena ia dan teman-teman pecinta alam kerap kesulitan mencari perlengkapan di kawasan Jakarta Timur. “Kami harus ke Jakarta Selatan,” kata pria yang hobi naik gunung sejak 1992 hingga sekarang ini. Selain itu, ia ingin ada sebuah base camp bagi teman-teman sesama pecinta alam untuk berkumpul. Akhirnya, ia mengajak teman-temannya untuk membuka toko kecil. “Namun mereka tak tertarik dan tak yakin bisa menjalankannya,” ujar Alfi yang akhirnya memutuskan untuk mendirikan sendiri, dan pinjam uang dari dua-tiga temannya senilai Rp 9-10 juta.
Awalnya ia menjual produk lokal seperti merek Alpina, dan diikuti Eager. Lalu, disusul Consina di tahun 2000. Perkembangannya luar biasa, ia berhasil mengembangkan tokonya menjadi 11 sampai tahun 2003. Toko-toko itu tak hanya di Cempaka Putih, tapi juga di Cipulir, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Kramat Jati, Cakung, Penggilingan, Kelapa Gading (Jakarta), hingga Padang dan Cibodas. Setiap toko memiliki dua-tiga karyawan. Untuk memudahkan pengawasan, ia biasanya mempekerjakan beberapa keluarganya di usahanya.
Nama CV Tandike sendiri dibuat pada 2000 untuk memayungi usahanya yang terus berkembang pesat tersebut. Tandike diambil dari nama gunung yang tinggi di Sumatera Barat. Alfi mengakui, perkembangan usahanya tak selalu lancar. Tiga tahun pertama (1996-1999), usahanya berjalan di tempat, sebab ia tak punya produk andalan. Produk lokal dagangannya saat itu bisa dibeli konsumen di toko lain.
Memasuki tahun 2003 Alfi mencoba mengembangkan produknya dengan menjual produk impor. Produk yang diliriknya adalah merek Beal yang terkenal dan terbesar di seluruh dunia dengan tali serta perlengkapannya untuk memanjat tebing. Enam bulan pertama ia harus belanja ke Singapura, sebab merek ini dipegang oleh distributor regional di Singapura. Nilainya berkisar Rp 20-30 juta setiap kali belanja.
Namun pada 2004, Alfi tertarik menjadi distributor Beal. Ia pun mengajukan permohonan kepada pemegang merek Beal yang berpusat di Prancis. Sayang, mereka menolak dengan alasan produk ini telah lama dipegang mitra usahanya di Singapura, dan Indonesia merupakan bagian dari region Singapura. Toh, Alfi tak putus asa dan terus membujuk. Dan belum kunjung berhasil. Akhirnya, Alfi mengirim surat kepada mereka, bahwa ia akan menjual produk merek asing lain yang sejenis jika mereka tetap tak bersedia. Kebetulan saat itu memang ada dua produk asing yang ia lihat cukup bagus, yaitu Ederid dari Jerman dan Lanex dari Ceko.
Rupanya ancaman tersebut efektif. Akhirnya, pemegang utama merek Beal di Prancis mengizinkan. “Pemegang brand Beal dari Singapura juga setuju, dan menyarankan untuk memberi target kepada kami,” ujar Alfi. Target yang dimaksud adalah 10 ribu euro per tahun atau sekitar Rp 100 juta waktu itu.
Pengalaman menarik Alfi selain masalah ancaman dua merek itu, yaitu alamat website. Ketika akan menyetujui permohonan mereka, pihak Beal hanya bertanya singkat: mana alamat website Tandike. Maklum, mereka tak pernah bertemu langsung sehingga semua pembicaraan dilakukan hanya melalui e-mail. Hanya dalam tempo beberapa hari alamat website pun jadi walaupun fiturnya tak sempurna. Toh, buat pihak Beal tak masalah, dan kerja sama pun berlangsung kendati mereka tak bertemu.
Alfi menyadari, memenuhi target prinsipal bukanlah perkara mudah. Akhirnya ia memutuskan menjual produk Beal sebanyak-banyaknya tanpa menarik keuntungan sama sekali. “Target saya saat itu adalah mendapatkan pasar dan mereka memercayakan merek itu kepada saya. Jadi jika mereka jual Rp 1.000, saya jual dengan harga Rp 1.000,” paparnya memberi gambaran. Selain itu, ia ingin fokus mengembangkan jaringan lebih dulu. Alhasil, pada 2004, tingkat pencapaian penjualannya sebesar 400%. Dan persis pada Juni 2005, ia diangkat menjadi distributor Beal di Indonesia. Bahkan, untuk periode 2005-2006 Tandike memiliki kinerja terbaik setelah AS, Prancis, Jepang, dan Singapura untuk penjualan Beal. “Pencapaian kami sebesar 250% menurut prinsipal Beal di Jerman,” kata bungsu dari 6 bersaudara dari pasangan (almarhum) Syarbaini dan Sabandiah ini.
Sejak itu, sejumlah produsen asal Eropa dan AS datang dan menawarkan merek mereka kepada Alfi. Bahkan Lafuma, produk asal Prancis – seperti jaket, celana, sepatu, ransel, kaus tangan – agak memaksa Alfi untuk menjual produk-produknya. “Kata mereka, tak usah kirim uang, jual barang saya dulu nanti baru bayar,” ujar Alfi menirukan.
Sejak menjadi distributor merek-merek asing, Alfi mengubah strategi bisnisnya. Mulai 2005 ia menutup sejumlah toko yang dianggapnya kurang prospektif. Sebaliknya, ia berkonsentrasi sebagai distributor dan hanya membuka tiga toko. “Saya melihat cara ini lebih menguntungkan. Kerjanya sedikit dan kontrolnya lebih gampang,” kata Alfi, yang saat ini memiliki tiga toko selain di Jl. Raya Ciledug, yaitu di Cakung (Jak-Tim), dan Padang (Sum-Bar).
Tak hanya itu, hikmah menjadi distributor produk-produk asing ini. Belakangan, Alfi menyadari, ternyata pasar paling besar bukanlah produk olah raga luar ruang. Melainkan, perlengkapan untuk keselamatan kerja, yang ternyata memberi kontribusi hingga 90% pada total penjualannya. Adapun produk olah raga yang awalnya ia jual, kontribusinya cuma 10%. “Terus terang, ketika saya ingin menjadi distributor, saya sama sekali tak tahu hal ini,” ucapnya mengenang.
Tak heran, saat ini pelanggan yang datang sangat beragam. Tak hanya kalangan pecinta alam, tapi juga dari instansi pemerintah, perusahaan cleaning service di gedung-gedung tinggi, kalangan militer, hingga perusahaan telekomunikasi.
Sekarang, untuk peralatan olah raga luar ruang, pemasukan tertinggi berasal dari produk asing merek Deuter dari Jerman. Kontribusinya mencapai 60%. Merek ini menyediakan produk seperti sleeping bag dan tas ransel dalam berbagai bentuk, ukuran dan keperluan. Tempat kedua disusul Karrimor asal Inggris sebesar 25%-30%, dan diikuti merek-merek lain. Sementara untuk produk keselamatan kerja disumbangkan oleh Beal sebesar 40%, disusul Camp asal Italia (30%), dan Petzl dari Prancis (10%-20%). Produk Petzl, menurut Alfi, agak mirip dengan Beal tapi harganya sedikit lebih mahal.
Untuk produk lokal saat ini sebesar 60% disumbang oleh merek Consina, disusul Eager (30%). “Secara nasional sebenarnya Eager yang terbesar, tapi di toko saya Consina yang terbesar,” kata Alfi.
Dyson, pemilik merek Consina, mengungkapkan bahwa kinerja penjualan mereknya mencapai pertumbuhan tertinggi pada 2007 di toko-toko Tandike. “Besarnya mencapai 35%-40%,” kata pria berusia 33 tahun asal Toraja, Sulawesi Selatan ini. Dyson mengaku puas dan senang bekerja sama dengan Alfi, karena mereka sama-sama dari komunitas pecinta alam, dan komunikasinya sangat baik. “Ia terjun langsung ke toko-toko, punya komunikasi yang baik dengan konsumen dan produsen, sehingga ia tahu persis keadaannya. Kami juga banyak mendapat masukan dan bisa memperbaiki produk kami,” tutur lulusan Fakultas Teknik Industri Universitas Trisakti ini.
Alfi tak puas hanya sampai di situ. Kini ia mengembangkan jaringan tokonya di sejumlah daerah. Saat ini ia memiliki jaringan sekitar 60 toko di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Antara lain di Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Pelembang, Bogor, Bandung, Sukabumi, Yogyakarta, Solo, Balikpapan, Manado, Denpasar, Makassar, Ambon dan Papua. Bondan, Manajer Toko Kawani di Bandung, mengungkapkan hubungan kerja sama mereka sudah berjalan selama lima tahun. Kelebihan Alfi, menurutnya, tidak mudah menaikturunkan harga meskipun kurs US$ sering berubah-ubah. Kelebihan lain, barang yang dikirim sesuai dengan pesanan.
Soal harga, Alfi memang mematok harga tertentu untuk barang yang dijualnya. Selama harganya tidak menembus patokan harga kurs US$, pihaknya tak akan mengubah harga.
Perkembangan pasar Tandike ternyata tak hanya di dalam negeri. Sejumlah pemain di luar negeri seperti di Thailand, Hong Kong, Brunei Darussalam dan Malaysia pun membeli barang ke tokonya. “Saya memberi harga yang lebih murah ketimbang mereka membeli barang di Singapura,” kata Alfi. Lagi pula, “Negara mereka bukan market saya, dan saya tak keluar apa-apa. Saya hanya jadi calo,” lanjutnya memberi alasan kenapa memberi harga lebih murah.
Yang menarik, untuk memperkenalkan produk-produknya ke masyarakat, sejak empat tahun terakhir ia bekerja sama dengan Trans7 (sebelumnya TV7) dalam program Jejak Petualang. Dan saat ini setiap kegiatan teve mana pun yang berkaitan dengan petualangan atau liputan banjir, ia pastikan melakukan kerja sama dengan Tandike. Contohnya, Metro TV, Lativi, ANTV dan SCTV.
Soal perkembangan bisnisnya, Alfi menerangkan, sejak 2000-2004 pertumbuhan usahanya hanya 10%-20%. Namun sejak 2005-2007 mencapai 200%. Menurut dia, ada dua hal yang menyebabkan kenaikan ini. Pertama, toko-toko yang rugi ditutup. Kedua, karena ia menjadi distributor banyak barang impor, maka ia memiliki banyak produk untuk dipasarkan.
Adapun untuk tahun 2008, Alfi mengaku optimistis. “Karena sekarang ada kewajiban memakai alat pengaman untuk bekerja di ketinggian,” ucap suami Dina Akmalia (29 tahun), dan ayah dari Sultan Malano (empat tahun) ini. Dengan adanya peraturan ini, ia optimistis permintaan atas produk-produknya bakal meningkat. Yang pasti, visinya ke depan buat Tandike adalah menjadi yang ter. “Saya ingin menjadi yang terbesar, terkomplet dan termurah,” Alfi menegaskan.
sumber:
URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=7229
Sebagai pecinta alam, ia tak hanya jago memanjat tebing dan gunung-gunung tertinggi di Indonesia, tapi juga lihai mengolah hobinya menjadi bisnis yang menggiurkan. Ia pun berambisi menjadi pemain terhebat di bisnis perlengkapan outdoor dan keselamatan kerja.
.Sebidang tanah seluas 2.500 m2 di Jl. Raya Ciledug dan sejumlah rumah tua di atasnya tampak sedang dibenahi beberapa tukang bangunan. Di satu bagian tampak tiang dan dinding baru berbeton tinggi. Tanah ini sebelumnya milik seorang pengusaha carter pesawat terbang, tapi kini beralih ke tangan Alfi Hendry. “Di atas lahan ini saya akan membangun sebuah toko besar untuk perlengkapan kegiatan dan gym outdoor terbesar di Asia Pasifik,” ujar sang distributor sejumlah merek peralatan outdoor dan keselamatan kerja – sebagian besar produk impor – di bawah payung CV Tandike. Dengan pinjaman bank, bangunan itu rencananya berdiri pada 2010.
Di sisi lain, Toko Andike yang membelakangi areal tanah itu penuh dengan barang dagangan. “Bagi saya, toko ini sekarang seperti gudang,” ujar drop out Sekolah Tinggi Manajemen Industri, Jakarta ini sedikit berseloroh. Diungkapkannya, keberadaan toko besar tersebut untuk memenuhi keinginannya memiliki sebuah tempat yang nyaman dan luas, sehingga memungkinkan konsumen untuk mengecek perlengkapan outdoor yang akan dibeli. Contohnya, tempat tracking untuk sepeda gunung, kolam kecil untuk tes perahu, dan walk climbing.
Melihat penampilan pria kelahiran Padang 27 Januari 1973 ini, orang mungkin akan terkecoh. Perawakannya yang semampai, sepatu gunung, celana jins dan T-shirt yang dikenakannya, membuatnya lebih terlihat sebagai pecinta alam ketimbang businessman. Baginya, hobi dan bisnis memang bisa berjalan bersamaan, kecuali kuliah. “Saya kuliah sampai semester 12 dan keluar pada 1998, bukan karena bisnis tapi karena naik gunung,” ujar pria yang baru saja naik gunung tertinggi di Indonesia dan ketiga termahal di dunia, Cartenz Pyramids di Papua ini.
Meski kerap naik gunung, bisnisnya berjalan baik. Bermula dari pedagang produk kegiatan outdoor dengan sebuah toko berukuran 2 x 3 meter di Cempaka Putih, Jakarta, pada 1996, kini Alfi menjadi distributor sejumlah merek perlengkapan outdoor asing. Produk-produk terkenal asal Prancis, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Brasil dan Swedia itu antara lain bermerek Beal, Petzl, Lafuma, Millet, Karrimor, Trangia, Tramontina, Nalgene, Bufo, Boreal, Camp, Deuter, dan Fadears. Produknya meliputi tas, tenda, tali, sleeping bag, perahu karet, gelas tahan pecah, kompor, sandal dan sepatu naik gunung, rain coat, matras, ascender, descender, pulley, sling sampai helm. Ia juga menjual sejumlah merek lokal seperti Eager, Giant dan Consina, yang menyediakan perlengkapan kegiatan outdoor (topi, tas ransel, dompet, sandal, baju sampai celana) dan tas ransel sekolah.
Alfi terus mengikuti kegiatan pecinta alam dan terlibat dalam komunitasnya, tak hanya sebagai hobi melainkan juga dalam rangka mengembangkan usaha dan produk yang dijualnya. Sebenarnya, menjadi pengusaha bukanlah cita-cita Alfi. Semuanya mengalir seperti air. Yang mendorongnya mendirikan toko karena ia dan teman-teman pecinta alam kerap kesulitan mencari perlengkapan di kawasan Jakarta Timur. “Kami harus ke Jakarta Selatan,” kata pria yang hobi naik gunung sejak 1992 hingga sekarang ini. Selain itu, ia ingin ada sebuah base camp bagi teman-teman sesama pecinta alam untuk berkumpul. Akhirnya, ia mengajak teman-temannya untuk membuka toko kecil. “Namun mereka tak tertarik dan tak yakin bisa menjalankannya,” ujar Alfi yang akhirnya memutuskan untuk mendirikan sendiri, dan pinjam uang dari dua-tiga temannya senilai Rp 9-10 juta.
Awalnya ia menjual produk lokal seperti merek Alpina, dan diikuti Eager. Lalu, disusul Consina di tahun 2000. Perkembangannya luar biasa, ia berhasil mengembangkan tokonya menjadi 11 sampai tahun 2003. Toko-toko itu tak hanya di Cempaka Putih, tapi juga di Cipulir, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Kramat Jati, Cakung, Penggilingan, Kelapa Gading (Jakarta), hingga Padang dan Cibodas. Setiap toko memiliki dua-tiga karyawan. Untuk memudahkan pengawasan, ia biasanya mempekerjakan beberapa keluarganya di usahanya.
Nama CV Tandike sendiri dibuat pada 2000 untuk memayungi usahanya yang terus berkembang pesat tersebut. Tandike diambil dari nama gunung yang tinggi di Sumatera Barat. Alfi mengakui, perkembangan usahanya tak selalu lancar. Tiga tahun pertama (1996-1999), usahanya berjalan di tempat, sebab ia tak punya produk andalan. Produk lokal dagangannya saat itu bisa dibeli konsumen di toko lain.
Memasuki tahun 2003 Alfi mencoba mengembangkan produknya dengan menjual produk impor. Produk yang diliriknya adalah merek Beal yang terkenal dan terbesar di seluruh dunia dengan tali serta perlengkapannya untuk memanjat tebing. Enam bulan pertama ia harus belanja ke Singapura, sebab merek ini dipegang oleh distributor regional di Singapura. Nilainya berkisar Rp 20-30 juta setiap kali belanja.
Namun pada 2004, Alfi tertarik menjadi distributor Beal. Ia pun mengajukan permohonan kepada pemegang merek Beal yang berpusat di Prancis. Sayang, mereka menolak dengan alasan produk ini telah lama dipegang mitra usahanya di Singapura, dan Indonesia merupakan bagian dari region Singapura. Toh, Alfi tak putus asa dan terus membujuk. Dan belum kunjung berhasil. Akhirnya, Alfi mengirim surat kepada mereka, bahwa ia akan menjual produk merek asing lain yang sejenis jika mereka tetap tak bersedia. Kebetulan saat itu memang ada dua produk asing yang ia lihat cukup bagus, yaitu Ederid dari Jerman dan Lanex dari Ceko.
Rupanya ancaman tersebut efektif. Akhirnya, pemegang utama merek Beal di Prancis mengizinkan. “Pemegang brand Beal dari Singapura juga setuju, dan menyarankan untuk memberi target kepada kami,” ujar Alfi. Target yang dimaksud adalah 10 ribu euro per tahun atau sekitar Rp 100 juta waktu itu.
Pengalaman menarik Alfi selain masalah ancaman dua merek itu, yaitu alamat website. Ketika akan menyetujui permohonan mereka, pihak Beal hanya bertanya singkat: mana alamat website Tandike. Maklum, mereka tak pernah bertemu langsung sehingga semua pembicaraan dilakukan hanya melalui e-mail. Hanya dalam tempo beberapa hari alamat website pun jadi walaupun fiturnya tak sempurna. Toh, buat pihak Beal tak masalah, dan kerja sama pun berlangsung kendati mereka tak bertemu.
Alfi menyadari, memenuhi target prinsipal bukanlah perkara mudah. Akhirnya ia memutuskan menjual produk Beal sebanyak-banyaknya tanpa menarik keuntungan sama sekali. “Target saya saat itu adalah mendapatkan pasar dan mereka memercayakan merek itu kepada saya. Jadi jika mereka jual Rp 1.000, saya jual dengan harga Rp 1.000,” paparnya memberi gambaran. Selain itu, ia ingin fokus mengembangkan jaringan lebih dulu. Alhasil, pada 2004, tingkat pencapaian penjualannya sebesar 400%. Dan persis pada Juni 2005, ia diangkat menjadi distributor Beal di Indonesia. Bahkan, untuk periode 2005-2006 Tandike memiliki kinerja terbaik setelah AS, Prancis, Jepang, dan Singapura untuk penjualan Beal. “Pencapaian kami sebesar 250% menurut prinsipal Beal di Jerman,” kata bungsu dari 6 bersaudara dari pasangan (almarhum) Syarbaini dan Sabandiah ini.
Sejak itu, sejumlah produsen asal Eropa dan AS datang dan menawarkan merek mereka kepada Alfi. Bahkan Lafuma, produk asal Prancis – seperti jaket, celana, sepatu, ransel, kaus tangan – agak memaksa Alfi untuk menjual produk-produknya. “Kata mereka, tak usah kirim uang, jual barang saya dulu nanti baru bayar,” ujar Alfi menirukan.
Sejak menjadi distributor merek-merek asing, Alfi mengubah strategi bisnisnya. Mulai 2005 ia menutup sejumlah toko yang dianggapnya kurang prospektif. Sebaliknya, ia berkonsentrasi sebagai distributor dan hanya membuka tiga toko. “Saya melihat cara ini lebih menguntungkan. Kerjanya sedikit dan kontrolnya lebih gampang,” kata Alfi, yang saat ini memiliki tiga toko selain di Jl. Raya Ciledug, yaitu di Cakung (Jak-Tim), dan Padang (Sum-Bar).
Tak hanya itu, hikmah menjadi distributor produk-produk asing ini. Belakangan, Alfi menyadari, ternyata pasar paling besar bukanlah produk olah raga luar ruang. Melainkan, perlengkapan untuk keselamatan kerja, yang ternyata memberi kontribusi hingga 90% pada total penjualannya. Adapun produk olah raga yang awalnya ia jual, kontribusinya cuma 10%. “Terus terang, ketika saya ingin menjadi distributor, saya sama sekali tak tahu hal ini,” ucapnya mengenang.
Tak heran, saat ini pelanggan yang datang sangat beragam. Tak hanya kalangan pecinta alam, tapi juga dari instansi pemerintah, perusahaan cleaning service di gedung-gedung tinggi, kalangan militer, hingga perusahaan telekomunikasi.
Sekarang, untuk peralatan olah raga luar ruang, pemasukan tertinggi berasal dari produk asing merek Deuter dari Jerman. Kontribusinya mencapai 60%. Merek ini menyediakan produk seperti sleeping bag dan tas ransel dalam berbagai bentuk, ukuran dan keperluan. Tempat kedua disusul Karrimor asal Inggris sebesar 25%-30%, dan diikuti merek-merek lain. Sementara untuk produk keselamatan kerja disumbangkan oleh Beal sebesar 40%, disusul Camp asal Italia (30%), dan Petzl dari Prancis (10%-20%). Produk Petzl, menurut Alfi, agak mirip dengan Beal tapi harganya sedikit lebih mahal.
Untuk produk lokal saat ini sebesar 60% disumbang oleh merek Consina, disusul Eager (30%). “Secara nasional sebenarnya Eager yang terbesar, tapi di toko saya Consina yang terbesar,” kata Alfi.
Dyson, pemilik merek Consina, mengungkapkan bahwa kinerja penjualan mereknya mencapai pertumbuhan tertinggi pada 2007 di toko-toko Tandike. “Besarnya mencapai 35%-40%,” kata pria berusia 33 tahun asal Toraja, Sulawesi Selatan ini. Dyson mengaku puas dan senang bekerja sama dengan Alfi, karena mereka sama-sama dari komunitas pecinta alam, dan komunikasinya sangat baik. “Ia terjun langsung ke toko-toko, punya komunikasi yang baik dengan konsumen dan produsen, sehingga ia tahu persis keadaannya. Kami juga banyak mendapat masukan dan bisa memperbaiki produk kami,” tutur lulusan Fakultas Teknik Industri Universitas Trisakti ini.
Alfi tak puas hanya sampai di situ. Kini ia mengembangkan jaringan tokonya di sejumlah daerah. Saat ini ia memiliki jaringan sekitar 60 toko di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Antara lain di Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Pelembang, Bogor, Bandung, Sukabumi, Yogyakarta, Solo, Balikpapan, Manado, Denpasar, Makassar, Ambon dan Papua. Bondan, Manajer Toko Kawani di Bandung, mengungkapkan hubungan kerja sama mereka sudah berjalan selama lima tahun. Kelebihan Alfi, menurutnya, tidak mudah menaikturunkan harga meskipun kurs US$ sering berubah-ubah. Kelebihan lain, barang yang dikirim sesuai dengan pesanan.
Soal harga, Alfi memang mematok harga tertentu untuk barang yang dijualnya. Selama harganya tidak menembus patokan harga kurs US$, pihaknya tak akan mengubah harga.
Perkembangan pasar Tandike ternyata tak hanya di dalam negeri. Sejumlah pemain di luar negeri seperti di Thailand, Hong Kong, Brunei Darussalam dan Malaysia pun membeli barang ke tokonya. “Saya memberi harga yang lebih murah ketimbang mereka membeli barang di Singapura,” kata Alfi. Lagi pula, “Negara mereka bukan market saya, dan saya tak keluar apa-apa. Saya hanya jadi calo,” lanjutnya memberi alasan kenapa memberi harga lebih murah.
Yang menarik, untuk memperkenalkan produk-produknya ke masyarakat, sejak empat tahun terakhir ia bekerja sama dengan Trans7 (sebelumnya TV7) dalam program Jejak Petualang. Dan saat ini setiap kegiatan teve mana pun yang berkaitan dengan petualangan atau liputan banjir, ia pastikan melakukan kerja sama dengan Tandike. Contohnya, Metro TV, Lativi, ANTV dan SCTV.
Soal perkembangan bisnisnya, Alfi menerangkan, sejak 2000-2004 pertumbuhan usahanya hanya 10%-20%. Namun sejak 2005-2007 mencapai 200%. Menurut dia, ada dua hal yang menyebabkan kenaikan ini. Pertama, toko-toko yang rugi ditutup. Kedua, karena ia menjadi distributor banyak barang impor, maka ia memiliki banyak produk untuk dipasarkan.
Adapun untuk tahun 2008, Alfi mengaku optimistis. “Karena sekarang ada kewajiban memakai alat pengaman untuk bekerja di ketinggian,” ucap suami Dina Akmalia (29 tahun), dan ayah dari Sultan Malano (empat tahun) ini. Dengan adanya peraturan ini, ia optimistis permintaan atas produk-produknya bakal meningkat. Yang pasti, visinya ke depan buat Tandike adalah menjadi yang ter. “Saya ingin menjadi yang terbesar, terkomplet dan termurah,” Alfi menegaskan.
sumber:
URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=7229
beberapa pertimbangan memilih sepatu hiking
beberapa pertimbangan memilih sepatu hiking
1. bahan
pilih bahan yg waterproof plus breathable.
waterproof, loe pasti gak nyaman donk kalo sepatu loe dalemnya basah gara2 aer rembes kedalem. emang sih gw juga gak yakin ada bahan sepatu waterproof 100% kecuali sepatu boot
breathable, pasti nyaman kalo kondisi sirkulasi udara didalam sepatu gak pengap en panas. sirkulasi udara tetep ada walaupun sepatu nutup rapat. kalo gak ada sirkulasi sama sekali bisa dibayangin wanginya kaki kalo udah lama pake sepatu
nah dari kedua faktor tadi, waterproof plus breathable, bahan goretex banyak jadi pilihan. tapi konsekuensinya keharga yg lebih mahal. merk sepatu kaya HITEC bisa jadi pilihan ekonomis, bahan bukan goretex tapi udah waterproof plus breatahble, ya walaupun kualitas gak sebagus goretex
selain itu, kelenturan bahan jadi pertimbangan lain. sepatu yg sedikit lentur bikin kita nyaman saat melangkah, tapi jangan terlalu lentur juga
2. ukuran
pilih 1 atau bahkan 2 nomer diatas ukuran kaki kita. walaupun sedikit longggar tapi bisa diakali dengan pemakaian kaos kaki tebal yg otomatis meminimalisir luka lecet dan juga nambah nyaman telapak kaki. bahkan ada sebagian orang yg sampe make 2 kaos kaki.
ukuran sepatu juga sangat membantu pas kita turun gunung. ukuran yg lebih besar lebih nyaman dipakai karena ujung jari kaki gak langsung mentok ke ujung sepatu yg bisa buat ujung jari kaki sakit plus lecet, dan titik buat nahan bukan di ujung jari kaki tapi disekitar punggungan kaki
3. tapakan sepatu
pilih dari bahan yg gak mudah aus dan juga gak licin. jenis kembangan/tapakan juga harus bisa ''ngegrip'' lumayan kuat ketempat kita berjalan (gak licin).
salah satu jenis tapakan yg populer dipake disepatu hiking adalah vibram.
tapi perlu diingat, sebagus apapun sepatu itu ngegrip, saat lewat didaerah berlumut apalagi kayu berlumut harus ekstra hati2
ada sebagian teman2 pendaki yg bilang katanya sepatu bertapak vibram kurang cocok dipake digunung indonesia karena cepat rontok
4. tinggi sepatu
tinggi sepatu juga jadi salah satu pertimbangan. mau pilih low-cut, mid-cut atau high-cut?
sepatu low-cut (dibawah mata kaki) memang nyaman dipakai tetapi kurang melindungi mata kaki, misalnya kaki kita keseleo, mata kaki dan persendian disekitarnya kurang terlindungi
sepatu high-cut (tinggi diatas mata kaki, malah lebih mirip sepatu boot) juga rasanya kurang cocok dipakai dipegunungan indonesia, paling cocok digunung es (banyak didesain untuk pas digunakan dengan crampon/tapakan untuk berjalan diatas es). sepatu high-cut kurang nyaman dipakai pada saat melangkah (dalam hal kelenturan dan berat)
sepatu mid-cut mungkin yg paling cocok. selain tingginya kira2 sekitar mata kaki atau diatasnya sedikit, kelenturannya juga lumayan nyaman. mata kaki dan persendian disekitarnyapun lumayan terlindungi
5. berat
usahakan pilih sepatu yg ringan dengan alasan untuk kenyamanan melangkah tapi gak melupakan faktor keselamatan juga
1. bahan
pilih bahan yg waterproof plus breathable.
waterproof, loe pasti gak nyaman donk kalo sepatu loe dalemnya basah gara2 aer rembes kedalem. emang sih gw juga gak yakin ada bahan sepatu waterproof 100% kecuali sepatu boot
breathable, pasti nyaman kalo kondisi sirkulasi udara didalam sepatu gak pengap en panas. sirkulasi udara tetep ada walaupun sepatu nutup rapat. kalo gak ada sirkulasi sama sekali bisa dibayangin wanginya kaki kalo udah lama pake sepatu
nah dari kedua faktor tadi, waterproof plus breathable, bahan goretex banyak jadi pilihan. tapi konsekuensinya keharga yg lebih mahal. merk sepatu kaya HITEC bisa jadi pilihan ekonomis, bahan bukan goretex tapi udah waterproof plus breatahble, ya walaupun kualitas gak sebagus goretex
selain itu, kelenturan bahan jadi pertimbangan lain. sepatu yg sedikit lentur bikin kita nyaman saat melangkah, tapi jangan terlalu lentur juga
2. ukuran
pilih 1 atau bahkan 2 nomer diatas ukuran kaki kita. walaupun sedikit longggar tapi bisa diakali dengan pemakaian kaos kaki tebal yg otomatis meminimalisir luka lecet dan juga nambah nyaman telapak kaki. bahkan ada sebagian orang yg sampe make 2 kaos kaki.
ukuran sepatu juga sangat membantu pas kita turun gunung. ukuran yg lebih besar lebih nyaman dipakai karena ujung jari kaki gak langsung mentok ke ujung sepatu yg bisa buat ujung jari kaki sakit plus lecet, dan titik buat nahan bukan di ujung jari kaki tapi disekitar punggungan kaki
3. tapakan sepatu
pilih dari bahan yg gak mudah aus dan juga gak licin. jenis kembangan/tapakan juga harus bisa ''ngegrip'' lumayan kuat ketempat kita berjalan (gak licin).
salah satu jenis tapakan yg populer dipake disepatu hiking adalah vibram.
tapi perlu diingat, sebagus apapun sepatu itu ngegrip, saat lewat didaerah berlumut apalagi kayu berlumut harus ekstra hati2
ada sebagian teman2 pendaki yg bilang katanya sepatu bertapak vibram kurang cocok dipake digunung indonesia karena cepat rontok
4. tinggi sepatu
tinggi sepatu juga jadi salah satu pertimbangan. mau pilih low-cut, mid-cut atau high-cut?
sepatu low-cut (dibawah mata kaki) memang nyaman dipakai tetapi kurang melindungi mata kaki, misalnya kaki kita keseleo, mata kaki dan persendian disekitarnya kurang terlindungi
sepatu high-cut (tinggi diatas mata kaki, malah lebih mirip sepatu boot) juga rasanya kurang cocok dipakai dipegunungan indonesia, paling cocok digunung es (banyak didesain untuk pas digunakan dengan crampon/tapakan untuk berjalan diatas es). sepatu high-cut kurang nyaman dipakai pada saat melangkah (dalam hal kelenturan dan berat)
sepatu mid-cut mungkin yg paling cocok. selain tingginya kira2 sekitar mata kaki atau diatasnya sedikit, kelenturannya juga lumayan nyaman. mata kaki dan persendian disekitarnyapun lumayan terlindungi
5. berat
usahakan pilih sepatu yg ringan dengan alasan untuk kenyamanan melangkah tapi gak melupakan faktor keselamatan juga
Langganan:
Postingan (Atom)