28 April 2011

Memilih Petualanganmu

Waktu yang dihabiskan secara seksama untuk merencanakan suatu perjalanan petualangan tidaklah pernah terbuang percuma. Rencanakan dulu, sebelum kamu menetapkan tanggal keberangkatanmu, tentukan setiap pilihan. Kamu mungkin perlu belajar pelatihan pertolongan pertama, rencanakan jadual latihan kebugaran, atur keuanganmu, pilih dan beli perlengkapan, dsb.

Memilih Petualanganmu…
Petualangan sangat mengasyikan apabila kamu telah mengadakan penelitian tujuanmu secara seksama dan tahu mengapa kamu akan pergi kesana. Setelah memutuskan aktifitasmu, kamu meneliti lokasi mana dan petualangan macam apa yang mempunyai pilihan paling menarik.

Mendaki Gunung (Mountaineering):
Selidiki dalam buku petunjuk gambar foto-foto gunung yang benar-benar ingin kamu daki. Tetapi berhati-hatilah terhadap pengaruh ketinggian dan tetaplah pada kemampuanmu.

Memanjat Tebing (Rock Climbing):
Banyak-banyak latihan dalam keadaan fasilitas darurat sebelum kamu mempertimbangkan untuk memanjat tebing di beberapa daerah. Pelajari dengan benar daerah yang ingin kamu kunjungi itu.

Arung Jeram (rafting):
Beberapa daerah di Indonesia menawarkan fasilitas yang sangat baik sekali untuk eksplorasi/ penjelajahan sungai. Selalu periksa perlengkapan perahu, dan jaket penyelamat secara seksama sebelum melakukan aktifitas ini.

Penyelusuran Gua (Caving):
Periksa daerah dan teliti jenis gua yang ingin kami telusuri.

Menentukan Waktu Perjalananmu.
Faktor Iklim:
Selain detail temperatur (baik siang maupun malam) dan turunnya hujan selama waktu yang kamu habiskan di suatu lokasi, di beberapa daerah kamu harus belajar kapan kejadian-kejadian iklim tertentu diharapkan.

Tetap Sehat
Menjaga kesehatan merupakan tanggun-jawabmu yang paling penting. Selalu bawa perlengkapan pertolongan pertama untuk merawat keluhan-keluhan kecil.

Mempersiapkan Diri
Pastikan mulai berlatih dulu. Latihan yang terus-menerus membantu meningkatkan kelenturan, dan latihan-latihan aerobik seperti berenang meningkatkan efisiensi jantung dan paru-parumu. Berlatih beban menambah kekuatan kaki dan tangan, bahu dan punggungmu.

Membawa Ranselmu…
Biasakan membawa ranselmu ketika berjalan-jalan, tambahkan baik jarak kamu berjalan maupun berat yang kamu bawa. Gunakan sepatu boot dan berjalanlah dengan cepat. Hindari berlari dengan ranselmu karena kamu dapat melukai lutut dan punggungmu.

Latihan Berjalan
Gunakan latihan berjalan untuk membiasakan dirimu cocok/pas dengan ranselmu, pakaian luar rumahmu (outdoor clothing) dan sepatu boot-mu. Mulailah dengan berjalan hanya beberapa kilometer. Ketika berjalan siang hari dapat dilakukan dengan mudah, latihlah keahlian/kepandaian navigasimu, mulailah di daerah yang sangat kamu kenal/familiar.

Mengatur Perlengkapanmu
Sebelum memulai perjalananmu, buatlah daftar barang-barangmu, timbang berat perlengkapanmu. Kemas perlengkapanmu secara terpisah menurut fungsinya, dan letakkan semuanya di dalam ranselmu.

Berjumpa dengan Orang-orang
Berhubungan dengan orang-orang yang sangat berbeda dengan dirimu merupakan kesenangan perjalanan. Jangan mempunyai prasangka bagaimana mereka seharusnya, tapi hormatilah mereka sebagaimana mereka. Hormatilah agama-agama setempat, di beberapa daerah, kamu dapat meningkatkan tempat menetapmu dengan membayar hormatmu pada kepala desa setempat dan hilangkanlah kecurigaan yang mungkin dimiliki oleh masyarakat/komunitas setempat terhadap dirimu.

Menyesuaikan diri pada Ketinggian
Cara terbaik menyesuaikan diri pada iklim tinggi diketinggian adalah naik secara bertahap dan dimuati secara ringan, olehkarenanya lalukan latihan secara ringan sementara perlahan-lahan mencapai ketinggian. Tubuh mengimbangi udara yang makin menipis dengan mengeluarkan sel-sel darah merah ekstra daripada menambah oksigen ke otak. Jika kamu pernah mengalami sakit, turun ke ketinggian yang lebih rendah adalah penyembuhan yang alamiah dan aman, daripada terpaksa minum obat seperti diamox (acetazolamide).
Mandi
Sebelum masuk ke sungai, periksa hulu sungai karena pembuangan air terjun atau sumber-sumber lainnya mencelakakan mikro-organisma. Cobalah untuk tidak menelan air apapun. Jangan pernah menyelam tanpa mengecek dahulu kedalaman dan mencari bahaya/resiko bawah air.


(sumber:hijau adventure gear)

Berburu “Seven Summits” di Nusantara

Berburu “Seven Summits” di Nusantara

Pegunungan adalah tempat paling kuat di Bumi,
dan menuntut penghormatan tertinggi
(Erik Weihenmayer)

Nama “Seven Summits” telah lama dikenal dalam dunia pendakian gunung di dunia dan disebut-sebut sebagai sebuah grand slam penjelajahan yang sebenarnya. Petualangan ekstrem ini merupakan pendakian puncak-puncak tertinggi di setiap benua.

Ketika Mount Everest sebagai puncak tertinggi di dunia telah banyak didaki, orang bertanya-tanya pendakian spektakuler apalagi yang dapat dibuat oleh umat manusia dalam menantang keperkasaan alam. Maka lahirlah ekspedisi-ekspedisi dari berbagai negara termasuk Indonesia yang terobsesi dengan grand slam penjelajahan ini.

Sekian puncak yang wajib didaki adalah Mc Kinley (6.194 m) di Amerika Utara, Aconcagua (6.960 m) di Amerika Selatan, Kilimanjaro (5.895 m) di Afrika, El’brus (5.642 m) di Eropa, Vinson Massif (4.897 m) di Antartika, dan tentunya Everest (8.848 m) di Asia. Sedangkan satu lagi puncak yang dianggap mewakili lempengan Australia-Oseania mempunyai beberapa pilihan yang sama mendebarkan, yaitu Cartenz Pyramid di Pulau Papua, Mount Cook di Selandia Baru, atau Kosclusko di Australia.

“Seven summits” nusantara
Bagi para pecinta kegiatan mendaki gunung amatir dan wisatawan, mimpi “Seven Summits” ini tentunya cukup mustahil untuk dilaksanakan mengingat diperlukan skill, persiapan dan biaya yang maksimum. Bahkan walaupun semuanya telah terpenuhi, faktor alam seringkali menjadi penentu keberhasilan. Sejarah mencatat banyak pendaki profesional yang gagal bahkan gugur di medan perjuangannya yang terakhir di gunung-gunung tersebut.

Namun pendaki amatir dan wisatawan di Indonesia yang tetap mempunyai obsesi “Seven Summits” dapat mewujudkan keinginannya tersebut dengan skala yang lebih kecil, yaitu dalam kawasan Kepulauan Nusantara tercinta ini. Dengan sedikit romantisme, kita dapat mempersatukan seluruh kepulauan ini dengan mengoleksi puncak-puncak tertinggi di pulau-pulau di Nusantara.

Beberapa gunung tujuan misalnya Semeru di Jawa, Kerinci di Sumatera, Latimojong di Sulawesi, Binaiya di Maluku, Rinjani di Nusa Tenggara, Kinabalu di Kalimantan, dan tentunya Carstenz Pyramid di Papua. Ketujuh puncak itu memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi –bahkan beberapa dapat dinaiki tanpa memerlukan skill dan pengalaman yang terlampau tinggi. Tentunya asalkan memiliki kesehatan dan kebugaran yang cukup prima untuk mendaki gunung daerah tropis. Bahkan Kinabalu di Malaysia sudah dikelola sedemikian rupa sehingga menjamin suatu perjalanan pendakian yang menyenangkan.

Kecuali Carstenz Pyramid, rata-rata keenam puncak memiliki jalur yang tipikal. Suasana tropis dan jalur utama pendakian cukup memadai bagi wisatawan yang ingin mendakinya. Yang perlu diperhatikan adalah kecermatan dalam memprediksi kondisi alam dan jalan setapak yang dilalui. Pada jalur pendakian di Latimojong, misalnya, vegetasi lumut masih banyak dijumpai merundung jalur pendakian, sehingga tak sejelas jalur pendakian di Semeru. Juga kerimbunan dan kecuraman jalur pendakian di Kerinci tentunya kontras berbeda dengan jalur pendakian umumnya di Rinjani yang gersang (jalur Sembalun).

Perburuan puncak
Keenam puncak selain Carstenz Pyramid di Papua adalah puncak-puncak yang lebih memungkinkan dan mudah untuk didaki. Mari kita telusuri persiapan-persiapan yang diperlukan untuk mencapainya. Sedangkan pendakian Carstenz Pyramid dengan salju abadinya lebih memerlukan persiapan dan skill dibandingkan yang lain sehingga sangat cocok untuk dijadikan closing climbing dengan pembahasan yang lebih memadai di lain kesempatan.

Persiapan yang diperlukan peminat adalah terlebih dahulu mengumpulkan informasi-informasi yang diperlukan baik dari literatur atau rekomendasi sejawat. Sebagai contoh Kinabalu merupakan taman nasional yang dikelola secara profesionnal dan mempunyai aturan cukup ketat yang harus diikuti. Perjalanan ke sana harus didukung keuangan yang memadai. Jalur pendakian normal memakan waktu 2–3 hari untuk sampai ke puncak.

Perbekalan menjadi hal yang kritis selama pendakian. Pendaki sedapat mungkin mempunyai informasi yang akurat mengenai jalur pendakian terutama tempat–tempat yang tersedia sumber air alami. Terkadang sumber air alami (bukan curahan hujan) yang tersedia sangat jauh dari base camp sehingga amat bijak apabila dalam logistik kita selalu ada persediaaan air yang cukup. Namun hal-hal tersebut kiranya tidak perlu dirisaukan di Kinabalu karena telah tersedia akomodasi yang memadai.

Tak kalah pentingnya adalah memilih rekan satu tim yang nantinya akan bahu-membahu dalam pendakian agar tercipta sebuah perjalanan yang menyenangkan. Terlebih lagi apabila perjalanan akan memakan waktu yang lama karena jauhnya tempat yang dituju. Bila diperlukan di Rinjani dan Kinabalu selalu tersedia porter atau guide yang siap membantu pendakian dengan upah yang wajar.

Adalah sikap yang bijak untuk senantiasa ramah dan bersosialisaisi dengan penduduk di tempat mulainya pendakian. Akan sangat bermanfaat bila kita beristirahat terlebih dahulu di desa terakhir sebelum memulai pendakian. Di Kerinci, Rinjani, dan Kinabalu telah banyak tersedia pesanggrahan di kaki gunung bagi yang ingin beristirahat.

Banyak yang bisa digali dari sosialisasi dengan masyarakat sekitar kaki pegunungan selain persahabatan. Kita bisa mengumpulkan informasi yang diperlukan seperti sumber mata air, cerita-cerita legenda, kondisi alam serta flora fauna sekitar gunung. Dari pengalaman penulis, penduduk desa akan memberikan bantuan lebih dari yang sekedar diharapkan apabila kita dapat melakukan pendekatan yang tepat. Bahkan kerap kita tak dapat membayangkan bagaimana membalas kebaikan mereka kelak.

Pulang dengan selamat
Perlu disadari pendakian gunung bukanlah olahraga yang mudah. Selain dibutuhkan respek terhadap alam, juga diperlukan kearifan untuk mengukur kemampuan sendiri. Pendakian maraton beberapa gunung sekaligus dalam waktu berdekatan bukanlah hal yang bijak. Manusia adalah mahluk sosial yang senantiasa rindu kepada masyarakatnya. Ambisi yang tidak wajar hanya akan menumbuhkan sikap anti sosial, sesuatu yang sayangnya terkadang menjangkiti para pendaki.

Kondisi fisik yang tidak prima akan menjadi hambatan utama perburuan puncak. Kelelahan dan turunnya kondisi tubuh akan segera dirasakan. Daya tahan terhadap cuaca pun menjadi sangat rentan. Demikian pula kondisi psikis yang merindukan suasana sosial akan menjadikan perjalanan kurang menyenangkan karena perasaan ingin cepat pulang begitu mendominasi. Perasaan takabur karena merasa telah berpengalaman pun menjadi musuh yang tak kurang berbahaya.

Wisatawan dan penggemar olahraga mendaki gunung dapat menjadikan puncak-puncak pulau sebagai suatu perburuan yang menyenangkan dengan suasana kompetisi yang penuh persahabatan. Pada saat-saat mendekati puncak, tiada ada yang lebih indah selain bertemu dengan sesama pendaki lain. Itulah persahabatan yang sulit dilukiskan. Tanpa pernah bertemu atau menyapa, tiba-tiba saja senyuman dan sapaan begitu mudah terlontar. Jauh sekali dengan suasana perkotaaan yang hampa dari keramahan.

Kalangan penggiat kegiatan outdoor dan wisatawan penggemar olahraga mendaki gunung dapat merangkaikan petualangannya menjadi sebuah bunga rampai perjalanan yang menebarkan wangi semangat keindonesiaan yang kental. Ibarat lembaran-lembaran khazanah berharga yang bila dirangkum akan menjelmakan sebuah magnum opus bagi penghayatnya. Sebuah tantangan petualangan yang sulit diabaikan begitu saja…

SUMBER : http://catros.wordpress.com/2007/06/14/berburu-%E2%80%9Cseven-summits%E2%80%9D-di-nusantara/

Berambisi Terhebat di Peralatan Outdoor

Berambisi Terhebat di Peralatan Outdoor


Sebagai pecinta alam, ia tak hanya jago memanjat tebing dan gunung-gunung tertinggi di Indonesia, tapi juga lihai mengolah hobinya menjadi bisnis yang menggiurkan. Ia pun berambisi menjadi pemain terhebat di bisnis perlengkapan outdoor dan keselamatan kerja.

.Sebidang tanah seluas 2.500 m2 di Jl. Raya Ciledug dan sejumlah rumah tua di atasnya tampak sedang dibenahi beberapa tukang bangunan. Di satu bagian tampak tiang dan dinding baru berbeton tinggi. Tanah ini sebelumnya milik seorang pengusaha carter pesawat terbang, tapi kini beralih ke tangan Alfi Hendry. “Di atas lahan ini saya akan membangun sebuah toko besar untuk perlengkapan kegiatan dan gym outdoor terbesar di Asia Pasifik,” ujar sang distributor sejumlah merek peralatan outdoor dan keselamatan kerja – sebagian besar produk impor – di bawah payung CV Tandike. Dengan pinjaman bank, bangunan itu rencananya berdiri pada 2010.

Di sisi lain, Toko Andike yang membelakangi areal tanah itu penuh dengan barang dagangan. “Bagi saya, toko ini sekarang seperti gudang,” ujar drop out Sekolah Tinggi Manajemen Industri, Jakarta ini sedikit berseloroh. Diungkapkannya, keberadaan toko besar tersebut untuk memenuhi keinginannya memiliki sebuah tempat yang nyaman dan luas, sehingga memungkinkan konsumen untuk mengecek perlengkapan outdoor yang akan dibeli. Contohnya, tempat tracking untuk sepeda gunung, kolam kecil untuk tes perahu, dan walk climbing.

Melihat penampilan pria kelahiran Padang 27 Januari 1973 ini, orang mungkin akan terkecoh. Perawakannya yang semampai, sepatu gunung, celana jins dan T-shirt yang dikenakannya, membuatnya lebih terlihat sebagai pecinta alam ketimbang businessman. Baginya, hobi dan bisnis memang bisa berjalan bersamaan, kecuali kuliah. “Saya kuliah sampai semester 12 dan keluar pada 1998, bukan karena bisnis tapi karena naik gunung,” ujar pria yang baru saja naik gunung tertinggi di Indonesia dan ketiga termahal di dunia, Cartenz Pyramids di Papua ini.

Meski kerap naik gunung, bisnisnya berjalan baik. Bermula dari pedagang produk kegiatan outdoor dengan sebuah toko berukuran 2 x 3 meter di Cempaka Putih, Jakarta, pada 1996, kini Alfi menjadi distributor sejumlah merek perlengkapan outdoor asing. Produk-produk terkenal asal Prancis, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Brasil dan Swedia itu antara lain bermerek Beal, Petzl, Lafuma, Millet, Karrimor, Trangia, Tramontina, Nalgene, Bufo, Boreal, Camp, Deuter, dan Fadears. Produknya meliputi tas, tenda, tali, sleeping bag, perahu karet, gelas tahan pecah, kompor, sandal dan sepatu naik gunung, rain coat, matras, ascender, descender, pulley, sling sampai helm. Ia juga menjual sejumlah merek lokal seperti Eager, Giant dan Consina, yang menyediakan perlengkapan kegiatan outdoor (topi, tas ransel, dompet, sandal, baju sampai celana) dan tas ransel sekolah.

Alfi terus mengikuti kegiatan pecinta alam dan terlibat dalam komunitasnya, tak hanya sebagai hobi melainkan juga dalam rangka mengembangkan usaha dan produk yang dijualnya. Sebenarnya, menjadi pengusaha bukanlah cita-cita Alfi. Semuanya mengalir seperti air. Yang mendorongnya mendirikan toko karena ia dan teman-teman pecinta alam kerap kesulitan mencari perlengkapan di kawasan Jakarta Timur. “Kami harus ke Jakarta Selatan,” kata pria yang hobi naik gunung sejak 1992 hingga sekarang ini. Selain itu, ia ingin ada sebuah base camp bagi teman-teman sesama pecinta alam untuk berkumpul. Akhirnya, ia mengajak teman-temannya untuk membuka toko kecil. “Namun mereka tak tertarik dan tak yakin bisa menjalankannya,” ujar Alfi yang akhirnya memutuskan untuk mendirikan sendiri, dan pinjam uang dari dua-tiga temannya senilai Rp 9-10 juta.

Awalnya ia menjual produk lokal seperti merek Alpina, dan diikuti Eager. Lalu, disusul Consina di tahun 2000. Perkembangannya luar biasa, ia berhasil mengembangkan tokonya menjadi 11 sampai tahun 2003. Toko-toko itu tak hanya di Cempaka Putih, tapi juga di Cipulir, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Kramat Jati, Cakung, Penggilingan, Kelapa Gading (Jakarta), hingga Padang dan Cibodas. Setiap toko memiliki dua-tiga karyawan. Untuk memudahkan pengawasan, ia biasanya mempekerjakan beberapa keluarganya di usahanya.

Nama CV Tandike sendiri dibuat pada 2000 untuk memayungi usahanya yang terus berkembang pesat tersebut. Tandike diambil dari nama gunung yang tinggi di Sumatera Barat. Alfi mengakui, perkembangan usahanya tak selalu lancar. Tiga tahun pertama (1996-1999), usahanya berjalan di tempat, sebab ia tak punya produk andalan. Produk lokal dagangannya saat itu bisa dibeli konsumen di toko lain.

Memasuki tahun 2003 Alfi mencoba mengembangkan produknya dengan menjual produk impor. Produk yang diliriknya adalah merek Beal yang terkenal dan terbesar di seluruh dunia dengan tali serta perlengkapannya untuk memanjat tebing. Enam bulan pertama ia harus belanja ke Singapura, sebab merek ini dipegang oleh distributor regional di Singapura. Nilainya berkisar Rp 20-30 juta setiap kali belanja.

Namun pada 2004, Alfi tertarik menjadi distributor Beal. Ia pun mengajukan permohonan kepada pemegang merek Beal yang berpusat di Prancis. Sayang, mereka menolak dengan alasan produk ini telah lama dipegang mitra usahanya di Singapura, dan Indonesia merupakan bagian dari region Singapura. Toh, Alfi tak putus asa dan terus membujuk. Dan belum kunjung berhasil. Akhirnya, Alfi mengirim surat kepada mereka, bahwa ia akan menjual produk merek asing lain yang sejenis jika mereka tetap tak bersedia. Kebetulan saat itu memang ada dua produk asing yang ia lihat cukup bagus, yaitu Ederid dari Jerman dan Lanex dari Ceko.

Rupanya ancaman tersebut efektif. Akhirnya, pemegang utama merek Beal di Prancis mengizinkan. “Pemegang brand Beal dari Singapura juga setuju, dan menyarankan untuk memberi target kepada kami,” ujar Alfi. Target yang dimaksud adalah 10 ribu euro per tahun atau sekitar Rp 100 juta waktu itu.

Pengalaman menarik Alfi selain masalah ancaman dua merek itu, yaitu alamat website. Ketika akan menyetujui permohonan mereka, pihak Beal hanya bertanya singkat: mana alamat website Tandike. Maklum, mereka tak pernah bertemu langsung sehingga semua pembicaraan dilakukan hanya melalui e-mail. Hanya dalam tempo beberapa hari alamat website pun jadi walaupun fiturnya tak sempurna. Toh, buat pihak Beal tak masalah, dan kerja sama pun berlangsung kendati mereka tak bertemu.

Alfi menyadari, memenuhi target prinsipal bukanlah perkara mudah. Akhirnya ia memutuskan menjual produk Beal sebanyak-banyaknya tanpa menarik keuntungan sama sekali. “Target saya saat itu adalah mendapatkan pasar dan mereka memercayakan merek itu kepada saya. Jadi jika mereka jual Rp 1.000, saya jual dengan harga Rp 1.000,” paparnya memberi gambaran. Selain itu, ia ingin fokus mengembangkan jaringan lebih dulu. Alhasil, pada 2004, tingkat pencapaian penjualannya sebesar 400%. Dan persis pada Juni 2005, ia diangkat menjadi distributor Beal di Indonesia. Bahkan, untuk periode 2005-2006 Tandike memiliki kinerja terbaik setelah AS, Prancis, Jepang, dan Singapura untuk penjualan Beal. “Pencapaian kami sebesar 250% menurut prinsipal Beal di Jerman,” kata bungsu dari 6 bersaudara dari pasangan (almarhum) Syarbaini dan Sabandiah ini.

Sejak itu, sejumlah produsen asal Eropa dan AS datang dan menawarkan merek mereka kepada Alfi. Bahkan Lafuma, produk asal Prancis – seperti jaket, celana, sepatu, ransel, kaus tangan – agak memaksa Alfi untuk menjual produk-produknya. “Kata mereka, tak usah kirim uang, jual barang saya dulu nanti baru bayar,” ujar Alfi menirukan.

Sejak menjadi distributor merek-merek asing, Alfi mengubah strategi bisnisnya. Mulai 2005 ia menutup sejumlah toko yang dianggapnya kurang prospektif. Sebaliknya, ia berkonsentrasi sebagai distributor dan hanya membuka tiga toko. “Saya melihat cara ini lebih menguntungkan. Kerjanya sedikit dan kontrolnya lebih gampang,” kata Alfi, yang saat ini memiliki tiga toko selain di Jl. Raya Ciledug, yaitu di Cakung (Jak-Tim), dan Padang (Sum-Bar).

Tak hanya itu, hikmah menjadi distributor produk-produk asing ini. Belakangan, Alfi menyadari, ternyata pasar paling besar bukanlah produk olah raga luar ruang. Melainkan, perlengkapan untuk keselamatan kerja, yang ternyata memberi kontribusi hingga 90% pada total penjualannya. Adapun produk olah raga yang awalnya ia jual, kontribusinya cuma 10%. “Terus terang, ketika saya ingin menjadi distributor, saya sama sekali tak tahu hal ini,” ucapnya mengenang.

Tak heran, saat ini pelanggan yang datang sangat beragam. Tak hanya kalangan pecinta alam, tapi juga dari instansi pemerintah, perusahaan cleaning service di gedung-gedung tinggi, kalangan militer, hingga perusahaan telekomunikasi.

Sekarang, untuk peralatan olah raga luar ruang, pemasukan tertinggi berasal dari produk asing merek Deuter dari Jerman. Kontribusinya mencapai 60%. Merek ini menyediakan produk seperti sleeping bag dan tas ransel dalam berbagai bentuk, ukuran dan keperluan. Tempat kedua disusul Karrimor asal Inggris sebesar 25%-30%, dan diikuti merek-merek lain. Sementara untuk produk keselamatan kerja disumbangkan oleh Beal sebesar 40%, disusul Camp asal Italia (30%), dan Petzl dari Prancis (10%-20%). Produk Petzl, menurut Alfi, agak mirip dengan Beal tapi harganya sedikit lebih mahal.

Untuk produk lokal saat ini sebesar 60% disumbang oleh merek Consina, disusul Eager (30%). “Secara nasional sebenarnya Eager yang terbesar, tapi di toko saya Consina yang terbesar,” kata Alfi.

Dyson, pemilik merek Consina, mengungkapkan bahwa kinerja penjualan mereknya mencapai pertumbuhan tertinggi pada 2007 di toko-toko Tandike. “Besarnya mencapai 35%-40%,” kata pria berusia 33 tahun asal Toraja, Sulawesi Selatan ini. Dyson mengaku puas dan senang bekerja sama dengan Alfi, karena mereka sama-sama dari komunitas pecinta alam, dan komunikasinya sangat baik. “Ia terjun langsung ke toko-toko, punya komunikasi yang baik dengan konsumen dan produsen, sehingga ia tahu persis keadaannya. Kami juga banyak mendapat masukan dan bisa memperbaiki produk kami,” tutur lulusan Fakultas Teknik Industri Universitas Trisakti ini.

Alfi tak puas hanya sampai di situ. Kini ia mengembangkan jaringan tokonya di sejumlah daerah. Saat ini ia memiliki jaringan sekitar 60 toko di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Antara lain di Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Pelembang, Bogor, Bandung, Sukabumi, Yogyakarta, Solo, Balikpapan, Manado, Denpasar, Makassar, Ambon dan Papua. Bondan, Manajer Toko Kawani di Bandung, mengungkapkan hubungan kerja sama mereka sudah berjalan selama lima tahun. Kelebihan Alfi, menurutnya, tidak mudah menaikturunkan harga meskipun kurs US$ sering berubah-ubah. Kelebihan lain, barang yang dikirim sesuai dengan pesanan.

Soal harga, Alfi memang mematok harga tertentu untuk barang yang dijualnya. Selama harganya tidak menembus patokan harga kurs US$, pihaknya tak akan mengubah harga.

Perkembangan pasar Tandike ternyata tak hanya di dalam negeri. Sejumlah pemain di luar negeri seperti di Thailand, Hong Kong, Brunei Darussalam dan Malaysia pun membeli barang ke tokonya. “Saya memberi harga yang lebih murah ketimbang mereka membeli barang di Singapura,” kata Alfi. Lagi pula, “Negara mereka bukan market saya, dan saya tak keluar apa-apa. Saya hanya jadi calo,” lanjutnya memberi alasan kenapa memberi harga lebih murah.

Yang menarik, untuk memperkenalkan produk-produknya ke masyarakat, sejak empat tahun terakhir ia bekerja sama dengan Trans7 (sebelumnya TV7) dalam program Jejak Petualang. Dan saat ini setiap kegiatan teve mana pun yang berkaitan dengan petualangan atau liputan banjir, ia pastikan melakukan kerja sama dengan Tandike. Contohnya, Metro TV, Lativi, ANTV dan SCTV.

Soal perkembangan bisnisnya, Alfi menerangkan, sejak 2000-2004 pertumbuhan usahanya hanya 10%-20%. Namun sejak 2005-2007 mencapai 200%. Menurut dia, ada dua hal yang menyebabkan kenaikan ini. Pertama, toko-toko yang rugi ditutup. Kedua, karena ia menjadi distributor banyak barang impor, maka ia memiliki banyak produk untuk dipasarkan.

Adapun untuk tahun 2008, Alfi mengaku optimistis. “Karena sekarang ada kewajiban memakai alat pengaman untuk bekerja di ketinggian,” ucap suami Dina Akmalia (29 tahun), dan ayah dari Sultan Malano (empat tahun) ini. Dengan adanya peraturan ini, ia optimistis permintaan atas produk-produknya bakal meningkat. Yang pasti, visinya ke depan buat Tandike adalah menjadi yang ter. “Saya ingin menjadi yang terbesar, terkomplet dan termurah,” Alfi menegaskan.

sumber:
URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=7229

beberapa pertimbangan memilih sepatu hiking

beberapa pertimbangan memilih sepatu hiking

1. bahan
pilih bahan yg waterproof plus breathable.
waterproof, loe pasti gak nyaman donk kalo sepatu loe dalemnya basah gara2 aer rembes kedalem. emang sih gw juga gak yakin ada bahan sepatu waterproof 100% kecuali sepatu boot
breathable, pasti nyaman kalo kondisi sirkulasi udara didalam sepatu gak pengap en panas. sirkulasi udara tetep ada walaupun sepatu nutup rapat. kalo gak ada sirkulasi sama sekali bisa dibayangin wanginya kaki kalo udah lama pake sepatu
nah dari kedua faktor tadi, waterproof plus breathable, bahan goretex banyak jadi pilihan. tapi konsekuensinya keharga yg lebih mahal. merk sepatu kaya HITEC bisa jadi pilihan ekonomis, bahan bukan goretex tapi udah waterproof plus breatahble, ya walaupun kualitas gak sebagus goretex
selain itu, kelenturan bahan jadi pertimbangan lain. sepatu yg sedikit lentur bikin kita nyaman saat melangkah, tapi jangan terlalu lentur juga

2. ukuran
pilih 1 atau bahkan 2 nomer diatas ukuran kaki kita. walaupun sedikit longggar tapi bisa diakali dengan pemakaian kaos kaki tebal yg otomatis meminimalisir luka lecet dan juga nambah nyaman telapak kaki. bahkan ada sebagian orang yg sampe make 2 kaos kaki.
ukuran sepatu juga sangat membantu pas kita turun gunung. ukuran yg lebih besar lebih nyaman dipakai karena ujung jari kaki gak langsung mentok ke ujung sepatu yg bisa buat ujung jari kaki sakit plus lecet, dan titik buat nahan bukan di ujung jari kaki tapi disekitar punggungan kaki

3. tapakan sepatu
pilih dari bahan yg gak mudah aus dan juga gak licin. jenis kembangan/tapakan juga harus bisa ''ngegrip'' lumayan kuat ketempat kita berjalan (gak licin).
salah satu jenis tapakan yg populer dipake disepatu hiking adalah vibram.
tapi perlu diingat, sebagus apapun sepatu itu ngegrip, saat lewat didaerah berlumut apalagi kayu berlumut harus ekstra hati2
ada sebagian teman2 pendaki yg bilang katanya sepatu bertapak vibram kurang cocok dipake digunung indonesia karena cepat rontok

4. tinggi sepatu
tinggi sepatu juga jadi salah satu pertimbangan. mau pilih low-cut, mid-cut atau high-cut?
sepatu low-cut (dibawah mata kaki) memang nyaman dipakai tetapi kurang melindungi mata kaki, misalnya kaki kita keseleo, mata kaki dan persendian disekitarnya kurang terlindungi
sepatu high-cut (tinggi diatas mata kaki, malah lebih mirip sepatu boot) juga rasanya kurang cocok dipakai dipegunungan indonesia, paling cocok digunung es (banyak didesain untuk pas digunakan dengan crampon/tapakan untuk berjalan diatas es). sepatu high-cut kurang nyaman dipakai pada saat melangkah (dalam hal kelenturan dan berat)
sepatu mid-cut mungkin yg paling cocok. selain tingginya kira2 sekitar mata kaki atau diatasnya sedikit, kelenturannya juga lumayan nyaman. mata kaki dan persendian disekitarnyapun lumayan terlindungi

5. berat
usahakan pilih sepatu yg ringan dengan alasan untuk kenyamanan melangkah tapi gak melupakan faktor keselamatan juga




API dan cara membuatnya

API dan cara membuatnya

Didalam situasi survival, kemampuan untuk menyalakan api dapat membuat perbedaan antara hidup dan sekarat. Api dapat memenuhi banyak banyak kebutuhan. Dapat menyediakan kehangatan dan kenyamanan.Juga untuk memasak dan menghangatkan makanan,serta juga dengan makanan yang hangat dapat membuat kita bisa menghemat kalori dalam tubuh kita yang biasanya diproduksi sewaktu tubuh memproduksi panas tubuh. Anda dapat menggunakan api untuk memurnikan air, mensterilkan perban, isyarat untuk penolong, dan memberikan perlindungan dari binatang. Dan secara pisikologi memberikan kedamaian pikiran dari ketegangan serta persahabatan. anda dapat juga menggunakan api untuk menghasilkan perkakas dan senjata.

Api dapat menyebabkan permasalahan, juga yaitu dapat menyebabkan kebakaran hutan. Api dapat juga menyebabkan membakar peracunan karbon monoksida”>karbon monoksida ketika dinyalakan dalam shelter perlindungan.

PRINSIP DASAR API

Untuk membuat api, perlu dipahami prinsip dasar api, yaitu: Bahan bakar tidak membakar secara langsung. Saat anda memberikan panas pada bahan bakar akan menghasilkan suatu gas. Gas ini berkombinasi dengan oksigen di udara, dan terbakar.

Pemahaman konsep segi tiga api adalah sangat penting yang akan dengan tepat membangun dan memelihara suatu api. Ke tiga sisi segi tiga ini diwakili oleh udara, panas, dan bahan bakar. Jika anda memindahkan manapun dari ketiga ini, api akan mati. Perbandingan yang benar dari komponen ini adalah sangat penting untuk api agar bisa membakar pada kemampuan terbesar nya. Satu-Satunya cara untuk belajar perbandingan ini adalah mempraktekannya

PEMILIHAN TEMPAT DAN PERSIAPAN

Anda perlu untuk memutuskan lokasi dan mengatur apa yang akan dipakai. Sebelum mebuat api perhatikan hal-hal berikut:

    *

      Areal (medan dan cuaca) di tempat anda beraktifitas
    *

      Bahan dan alat yang tersedia
    *

      Waktu - berapa lama anda punya waktu
    *

      Kebutuhan - kenapa anda butuh api
    *

      Keamanan - perhatikan arah angin dan sekeliling anda jangan sampai mengakibatkan kebakaran hutan.

Carilah tempat yang kering yang:

    *

      Terlindung dari angin
    *

      Tempatnya layak dan cocok dengan shelter anda (jika punya)
    *

      Bisa menkonsentrasikan panas pada arah yang anda inginkan
    *

      Ada persediaan kayu atau bahan bakar lain yang tersedia

PEMILIHAN MATERIAL UNTUK API

Anda akan membutuhkan tiga tipe material untuk membuat api yaitu: Tinder (penyala), kindling (pemancing), dan Fuel (bahan bakar)

Tinder adalah material kering yang akan menyala dengan panas atau suatu percikan api. Kita harus benar menyediakan bahan yang benar-benar kering agar hanya dengan percikan api bisa menyala.

Jika anda mempunyai alat yang bisa menghasilkan bunga api, charred cloth akan benar-benar dibutuhkan, karena bisa menahan nyala kecil dalam waktu lama, dan memungkinkan anda untuk menaruh tinder (pemancing) pada bagian yang panas untuk memancing nyala api sedikir besar. Anda bisa membuat charred cloth dengan mempergunakan kapas dan dipanaskan hingga berubah menjadi hitam, tapi tidak membakarnya. Setelah menghitam, harus disimpan dalam wadah kedap udara agar tetap kering, Persiapkan kain ini di awal perjalanan anda sebelum anda berada dalam situasi survival. Tambahkan item ini dalam survival kit pribadi anda.

Kindling, adalah material yang sudah disiapkan dan gampang menyala yang akan ditambahkan setelah bahan tinder menyala. Material ini juga harus yang sudah kering dan mudah terbakar dengan cepat. Kindling akan meningkatkan temperatur api dan akan membuat menyala lebih besar.

Fuel, material ini diperlukan saat api sudah menyala besar dan baru dibutuhkan bahan pembakar yang agak besar dan terbakar secara pelahan-lahan.

Berikut adalah jenis-jenis serta golongan dari material atau bahan yang bisa dipakai untuk membuat api

TINDER / PENYALA

    *

      Kayu kering yang diserut
    *

      Rumput kering, Pakis mati, Lumut kering, Jamur kering
    *

      Jerami
    *

      Serbuk gergaji
    *

      Dedaunan kering
    *

      Bagian yang mati atau membusuk dari batang pohon
    *

      Serabut tumbuhan yang mengering
    *

      Daun palm atau kelapa yang mati
    *

      Mesiu
    *

      Kapas
    *

      Kain kasa
    *

      Bagian luar bambu yang di serut

KINDLING / PEMANCING

    *

      Ranting kecil
    *

      Potongan kayu kecil
    *

      Kayu yang dipisah-pisahkan
    *

      Karton tebal
    *

      Potongan kayu yang diambil dari bagian dalam potongan kayu besar
    *

      Kayu yang tersiram dengan cairan yang mudah terbakar, seperti besin, minyak atau lilin

FUEL / BAHAN BAKAR

    *

      Kayu kering yang masih berdiri dan cabang yang sudah mati dan kering
    *

      Bagian dalam yang kering dari batang pohon tumbang, dahan atau cabangnya
    *

      Rumput kering yang dibelitkan jadi satu
    *

      Kotoran hewan yang sudah mengering
    *

      Gemuk hewan
    *

      Batubara, serpih mengandung minyak.

TEMPAT PENGAPIAN

tempat-pengapian.gifPilihlah tempat yang terlindung. Kecuali untuk keperluan signal atau tanda, jangan menyalakan api dibawah pohon. Bersihkan dedaunan, ranting-ranting, jamur dan rumput kering dalam radius 2m melingkar sampai mendapatkan permukaan tanah kosong. Jika tanah lembab atau basah, buatlah alas dari batang kayu dan lapisi dengan tanah, atau alasi dengan batu

PENGAPIAN BERBENTUK PANGGUNG

pengapian-panggung.gifBuatlah empat tiang dari batang kayu dan letakan alas pengapian dari batang kayu dan beri lapisan dengan tanah diatasnya. Buatlah dua dari keempat tiang agak tinggi dan buatlah sebatang kayu melintang. Kayu yang melintang ini bisa dijadikan tempat untuk menggantungkan tempat memasak makan. Pengapian seperti ini bisa dipakai pada daerah yang berrawa-rawa atau tanah yang becek berair.



BAGAIMANA MEMBUAT API

Ada beberapa metode untuk menyiapakan api, masing-masing mempunyai kelebihan. Situasi yang anda hadapi akan membuat anda bisa memutuskan cara apa yang akan dipakai.

TEPEE
teepee.gifUntuk membuat jenis ini, aturlah tinder dan beberapa potong kindling dalam bentuk teppe atau kerucut ini. Nyalakan tengahnya. Ketika teppe terbakar, potongan kayu bagian luar akan jatuh ke bagian dalam, dan dimakan api. Jenis api unggun seperti ini akan terbakar dengan baik sekali walaupun memakai kayu basah.



LEAN-TO
lean-to.gifUntuk membuat jenis ini, tanjapkanlah potongan kayu muda (hijau) ditanah dengan sudut 30 derajat. Arahkan bagian ujung dari potongan hijau tadi pada arah angin. Tempatkan beberapa tinder jauh dipojoknya bentuk ini. sandarkan potongan kindling pada potongan hijau tadi. Nyalakan tinder. Saat kindling terbakar oleh api dari tinder tambahkan terus potongan kindlingnya.

CROSS-DITCH
cross-ditch.gifUntuk membuat jenis ini, galilah parit menyilang dengan ukuran 30cm ditanah dengan kedalaman 7,5cm. Taruhlah gumpalan besar tinder dipertengahan dari bentuk silang tersebut, bangunlah kindling berbentuk piramid tinder. Parit tersebut memungkinkan udara untuk mengalir dibawah tinder dan membuat api tetap menyala.

PYRAMID
peramid.gifMebuat api unggun jenis ini, tempatkan dua batang kecil atau dahan kecil secara paralel ditanah. Tempatkan lapisan yang solid dari potongan kecil diatas dua batang paralel tadi. Tambahkan tiga atau empat lapisan batang atau ranting. Masing-masing lapisan lebih kecil dari dan pada sudut yang tepat dengan lapisan yang dibawah. buatlah permulaan nyala api pada bagian atas dari piramid. Saat api mulai menyala, akan membakar potongan dibawahnya. ini akan memberikan anda api unggun yang arah bakarnya dari atas kebawah dan tidak membutuhkan perhatian khusus sepanjang malam.

Ada beberapa cara-cara lain untuk membangun api unggun, situasi anda serta jenis material yang tersedia diarea tersebut mungkin akan membuat anda membangun api unggun dengan metode yang lebih cocok.

BAGAIMANA MENYALAKAN API

Selalu nyalakan api unggun anda dari arah melawan angin. Pastikan anda menaruh tinder, kindling dan fuel sedemikian rupa sehingga api unggun anda akan menyala sepanjang anda butuhkan. Pematik menyediakan panas awal yang diperlukan untuk menyalakan tinder dan terbagi dalam dua jenis katagori yaitu metode moderen dan primitive

METODE MODEREN

Pematik moderen menggunakan alat moderen – yaitu item yang biasa kita pakai dalam menyalakan api.

Korek Api:
Pastikan korek api ini waterproof. Juga simpan dalam wadah tahan air bersamaan dengan lapisan goresnya.

Convex Lens:
corvex-lens.gifMetode ini hanya bisa digunakan saat siang, dan marahari bersinar. Lensanya bisa dipakai dari lensa teropong, camera, telescope, atau kaca pembesar. Sudut peletakan lensa diatur agar sinar matahari bisa terkumpul diatas tinder. Peganglah lensa pada sudut tersebut hingga tinder mulai membara. Tiuplah pelan-pelan tinder agar kelihatan nyala apinya.



Metal Match:
Tempatkan daun kering dibawah tinder dengan bagian yang mengarah. Tempatkan metal match diatas daun kering, dan pegang metal match dengan satu tangan dan pisau ditangan satunya lagi. Goreskan pisau dengan metal match untuk menghasilkan percikan api. Percikan api akan mengenai tinder dan saat tinder mulai membara lakukan juga cara diatas yaitu meniupnya pelan-pelan hingga menyala.

METODE PRIMITIF
Metode pematik primitif ini adalah metode yang dipakai oleh nenek moyang kita

Flint and Stell:
Metode percikan langsung ini merupakan metode yang paling mudah dari metode primitif untuk digunakan. Metode batu api dan metode steel ini yang paling dapat dipercaya untuk metode percikan langsung. Benturkan batu api atau benda lain yang keras, tajam-batu karang dengan baja karbon (stainless stell tidak menghasilakan percikan yang bagus). Metode ini memerlukan kelenturan pergelangan tangan dan latihan. Saat percikan ditangkap oleh tinder, tiuplah pelan-pelan, percikan akan menyebar dan terbakar.

Fire-Plow:
fire-plow.gifmerupakan metode friksi pengapian. Gosokan batang kayu keras melawan kayu lembut sebagai alas. Untuk menggunakan metode ini, Potong mendalam (lobangi) memanjang dasarnya dan gerakan seperti membajak naik turun batang kayu yang keras tersebut. Gerakan membajak ini akan mendesak keluar partikel atau butir serabut kayu. Gerakan friksi ini akan lambat laun menimbulkan bunga api.

Busur dan Drill:
busur-dan-drill.gifbusur-dan-drill-2.gifTehnik pengapian dengan memakai busur dan drill in simple, anda harus terus berusaha dan gigih untuk menghasilkan suatu api. Anda akan memerlukan beberapa materi dalam menggunakan metode ini, yaitu:





    *

      Socket: Socket ini adalah suatu pegangan yang terbuat dari kayu atau tulang yang diberikan lubang untuk menahan dan menekan drill.
    *

      Drill: Drill haruslah lurus, dari kayu yang keras dengan diameter 2cm dan panjang 25cm. Ujung atasnya bulat rata dan ujung bawahnya dibuat mengecil pada ujungnya dan tumpul.
    *

      Fire Board: Ukurannya terserah anda, merupakan kayu lunak dengan tebal kira-kira 2,5cm dan lebar 10cm lebih dianjurkan. Potonglah kedalam kira-kira 2cm dari tepi suatu sisinya dan pada bagian bawahnya, buatlah potongan V yang dipotong dari permukaan bawahnya untuk tekanan.
    *

      Bow: Bow atau busur adalah suatu tongkat yang terbuat dari kayu muda (hijau) dengan diameter 2,5cm dan lengkap dengan benangnya. Tipe kayunya tidaklah penting. Tali busurnya bisa memakai jenis pengikat apapun. Ikatlah ujung busur yang satu dan lainnya dan jangan sampai kendur.

Untuk menggunakan busur dan drill ini, pertama siapkan lapisan untuk api, kemudian tempatkan gumpalan tinder dibawah lubang potong berbentuk V. Tempatkan satu kaki diatas papan api (fire Board). Pegang socket dengan satu tangan dan masukan pada bagian atas dari drill. Berikanlah tekanan pada drill sembari menarik maju mundur busur yang talinya sudah terikat pada drill sehingga dril akan berputar-putar bolak-balik. Tambahkan tekanan pada drill dan percepat busur. Aksi ini akan membuat panas dan menghasilkan bunga api yang akan ditangkap oleh tinder , kemudian tiuplah pelan-pelan sehingga menyala apinya.


NOTE: cara primitif membuat api sedikit melelahkan dan butuh kesabaran serta latihan.

BAHAYA…!!!!!
Hindari mendekatkan batu basah atau batu yang berlubang-lubang dekat api, terlebih lagi batu yang telah terrendam cukup lama dalam air – karena ada kemungkinan akan meledak jika dipanaskan, juga jika terlalu dekat dengan air ada kemungkinan mata akan kemasukan bara-bara kecil yang berterbangan sewaktu api berkobar. Jangan gunakan batu apung atau batu yang lunak. Lakukanlah tes terlebih dahulu dengan memukul-mukulkannya serta jangan gunakan batu yang retak atau yang mengeluarkan suara hampa.

sumber : http://catros.wordpress.com/2007/05/08/api-dan-cara-membuatnya/