28 April 2011

cara memakai ransel/carrier

CARA MEMAKAI RANSEL (CARRIER)

Jangan mengangkat ransel dari bawah ke pundak lalu ke punggung anda tanpa kuda2 dikaki.

Pertama angkat ransel pada kaitnya kuat2. lalu masukkan satu lengan sampai batas tali pundak di pundak. Setelah itu baru masukkan lengan satunya lagi. Jika anda tdk dapat mengangkat langsung, anda dpt angkat ransel dan menaruhnya di paha anda terlebih dahulu kemudian baru di kaitkan ke pundak sampai ke posisi yang paling baik.

Menyesuaikan ransel Sewajarnya untuk pemakaian, ransel harus terisi penuh dan semua tali pengikat di kendurkan dahulu. Dan yang terpenting semua tali pinggang dan pundak akan dikencangkan(2). Selalu awali pengencangan pertama di tali pinggang kemudian baru tali pundak dan posisi tali penyetel lainnya. Kurang lebih setengah dari tali pinggang harus menutupi tulang pinggang.(3)

Kencangkan tali pundak, pastikan bahan lapisan pelindung melingkar dipundak. Tapi jangan terlalu kencang ataupun terlalu kendur sehingga tali pengikat menjadi longgar & jauh dari pinggang atau pundak(4).
         

Diterjemahkan dari TATONKA Outdoor Eq

sumber : http://catros.wordpress.com/2007/05/08/180/

Cara Berpakaian Saat Pendakian

Cara Berpakaian Saat Pendakian
Jakarta – Seperti juga saat kita menghadiri suatu acara formal, ternyata di alam bebas pun memiliki tata cara berpakaian tersendiri. Sebenarnya prinsip berpakaian di alam bebas tidaklah sulit, tapi banyak orang tidak mengindahkan. Akibatnya terserang hypotermia (penyakit karena penurunan suhu tubuh) dan berakhir dengan tragis.
Hal penting yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan tubuh tetap nyaman adalah tingkat ketebalan dan kualitas bahan yang dipakai. Maka didesainlah sebuah sistem yang dapat mempertahankan tubuh tetap dalam temperatur konstan dalam keadaan cuaca yang paling berat sekalipun. Sistem pertahanan berlapis untuk menjaga kondisi tubuh ini kemudian sekarang dikenal bernama layering system.
Sistem ini membagi tiga bagian besar lapisan pakaian yang harus digunakan bila ingin bergiat di alam bebas. Lapisan yang pertama adalah bagian terdalam pakaian (base layer), kemudian bagian tengah (mid-layer) dan terakhir bagian terluar (outer layer).
Prinsip kerja pakaian terdalam (base layer) yang utama adalah mengeluarkan keringat dari dalam tubuh serta membuat pemakai tetap merasa kering dan nyaman. Di kondisi suhu tidak terlalu dingin bisa digunakan pakaian dalam seperti singlet atau kaus tipis. Sedangkan untuk keadaan yang ekstrem kita bisa menggunakan long john (pakaian dalam seluruh tubuh). Untuk celana dalam dan bra pilih yang memang digunakan untuk berolahraga. Sekarang ini sudah banyak dijual bebas di toko-toko di Indonesia.
Tugas kedua dari pakaian dalam adalah menjaga panas tubuh. Tapi karena bahan pakaian dalam yang rata-rata tipis maka tak dapat dielakkan akan banyak hangat tubuh yang lepas menuju lapisan yang kedua/tengah.
Bila kita melakukan aktivitas, tubuh kita akan menghasilkan panas. Sangat sayang sekali bila panas yang sudah timbul tersebut hanya disia-siakan. Maka diperlukan lapisan yang bisa menahan panas tubuh yang terbuang tersebut, inilah fungsi utama bagian kedua/tengah (mid layer).
Bagian tengah dari sistem ini berfungsi sebagai motor penghangat. Di bagian ini sebagian besar panas tubuh yang terlepas dari pakaian dalam dapat tertahan. Biasanya bagian ini terdiri dari lapisan bahan pakaian berserat atau berbulu. Bahan berjenis Polar-Tex sangat dianjurkan di sini. Tapi bila tak ada seminimal-minimalnya sediakan sweater berbahan wol sebagai alternatif.
Pakaian untuk lapisan ini kalau bisa juga mempunyai risleting di bagian mukanya. Sehingga bila kita merasa panas dan berkeringat ketika memakainya kita tak perlu repot sampai harus melepaskannya.
Di cuaca ekstrem dianjurkan juga memakai celana yang berbahan serat dan berbulu seperti jenis Polar-Tex meskipun pada kenyataaannya masih sulit didapat di tanah air. Tapi celana panjang berbahan polyster bisa menjadi pilihan lain untuk pakaian bagian bawah, karena selain mudah kering juga ringan dibawa.
Bagian terluar (outer layer) adalah bagian terakhir yang akan dibicarakan dari sistem ini. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari angin dan hujan. Bahan di lapisan ini haruslah bisa membiarkan uap tubuh yang menembus lapisan dalam dan tengah keluar. Bahan berjenis Gore-Tex dan Triplepoint dianjurkan untuk lapisan ini. Membran bahan tersebut yang sangat kecil membuat pakaian berjenis ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Di mana pori-pori yang dimiliki bahan tersebut teramat kecilnya sehingga tak mungkin dapat dimasuki cairan jenis apa pun. Tapi pori-pori kecil ini ternyata cukup besar untuk membiarkan udara keluar dari dalam tubuh.
Tapi jangan gunakan bahan jenis ini dalam keadaan cuaca panas. Karena uap panas yang keluar akan mengkondensasi di bagian dalam lapisan sebelum sempat lepas keluar. Dan ini akan berakibat lembabnya bagian dalam pakaian.
Ada beberapa orang yang memisahkan dua fungsi utama pakaian terluar ini. Mereka lebih memilih pakaian penahan angin (wind breaker) yang bisa dipadukan dengan pakaian anti-air. Keuntungan terbesar dari pemisahan fungsi tersebut adalah dapat membiarkan uap keringat keluar lebih cepat dan terasa lebih nyaman.
Pilihan yang paling baik untuk lapisan terluar adalah jaket tebal, tapi usahakan jangan jaket kulit karena sulit kering dan terasa berat. Juga usahakan lapisan yang terluar ini mempunyai sistem anti-air. Juga gunakan pakaian yang berwarna cerah. Karena pakaian yang berwarna cerah cenderung menangkis panas

sumber : http://catros.wordpress.com/2007/05/07/cara-berpakaian-saat-pendakian-2/

Building the survival kit

Building the survival kit

MENGAPA BUTUH SEBUAH SURVIVAL KIT ?

Otak merupakan alat survival paling penting, termasuk juga pengalaman2, pengetahuan dan pengambilan keputusan yang tepat dalam segala kondisi survival. Meskipun basic skill dalam survival sangat diperlukan, tetapi juga dibutuhkan basic equipment untuk membantu dalam bertahan hidup di kondisi darurat.

Survival kit haruslah terus dibawa secara personal. Baik dari yang ukuran small sampai large, ataupun yang bisa disimpan dalam saku sampai dalam tas besar. Survival kit tidak akan berguna jika tidak ada/melekat pada diri seseorang. Jadi, kemanapun dan kapanpun pada saat melakukan kegiatan outdoor, survival kit terus menemani.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mulai membangun satu set survival kit berdasarkan ketersediaan komponen/gear yang dibutuhkan dan tentunya tersedia di sekitar kita.

Dan diharapkan disini bisa jadi ajang tukar informasi berbagai komponen/gear survival atau satu set survival kit yang dimiliki plus informasi penggunaannya.

lebih lengkapnya baca di :
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4486551

Bouldering

Bouldering:

Quote:
Bouldering adalah salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan baik tenaga maupun teknik. Tapi, diintimidasi oleh dinding-dinding yang terjal dan gerakan-gerakan yang melemahkan kekuatan dari gua-gua bouldering (bouldering caves), kebanyakan dari pemanjat-pemanjat pemula menghabiskan waktunya dengan toproping di gelanggang olahraga (gym). Disinilah asyiknya, latihan dua jam yang efektif akan menolong para boulderer baru berolahraga dengan resiko minim untuk frustasi, berlebihan berlatih, dan kegagalan yang terus menerus sering dikaitkan dengan dinding bouldering di dalam ruang yang buruk.

"sukses menghasilkan sukses". Menggunakan mantra ini, kamu akan menggunakan jam pertama latihanmu untuk mengembangkan keahlian yang diperlukan untuk melakukan gerakan yang lebih keras lagi. Bouldering merupakan satu cara yang secara teknis menuntut kedisiplinan memanjat- - - cara kamu meraih peganggan, memindahkan beratmu dan kecepatan dimana kamu memanjat semuanya berubah pada setiap gerakan dan rangkaian yang kamu coba. Makin sulit gerakan yang kamu selesaikan dengan sukses, semakin banyak teknik yang kamu pelajari dan semakin cepat tubuhmu menyesuaikan pada tantangan-tantangan baru. Jadi tujuannya adalah menemukan problem-problem yang cukup sulit untuk mengetes batas kemampuanmu, tapi cukup mudah untuk menyelesaikannya dalam jam pertama tersebut. Inilah beberapa tip untuk memilih problem:

Mulailah dengan problem kira-kira enam gerakan - cukup panjang untuk mengetes kekuatan dan teknikmu, tapi tidak begitu panjang sehingga menguras tenagamu. Jauhi problem-problem yang kamu dapat lakukan pada percobaan pertama atau kedua. Itu semua terlalu mudah.

Hindari negatif progres. Jika kamu gagal terus-menerus pada satu gerakan, atau menjadi buruk berturut-turut pada usahamu, problem yang kamu pilih mungkin terlalu susah.. Pilihlah problem yang lebih mudah.

Setelah kamu mendapatkan problem yang bagus, latihlah gerakannya. Lakukan percobaan dengan foothold (penahan kaki) dan posisi tubuh yang berbeda. Latih problem tersebut per section, latih ulang dan sempurnakan tiap-tiap gerakan. Ingat, kamu tidak perlu mulai dari tanah setiap saat!

Istirahatlah yang banyak. Biarkan dirimu istirahat antara tiga sampai lima menit sebelum mulai lagi.Kamu harus merasa segar untuk setiap usahamu.

Rancang problemmu sendiri. Jika problem-problem tersebut tampak terlalu sulit, pilih enam kendi (jugs) dan ciptakan menurutmu urutan untuk menghubungkan kendi-kendi tersebut. Siapkan problem problem yang masing-masing saling menantang.
Ingat, sukses adalah tujuan akhir. Batasi dirimu dengan satu atau dua problem yang kamu dapat kirim (selesaikan) pada jam pertama.

Mari kita coba hal tersebut lagi. Satu dari hal-hal yang paling membatasi yang dilakukan oleh para pemanjat dari semua level adalah meninggalkan proyek tersebut sekali saja mereka telah dapat menyelesaikannya. Jika kamu telah memilih problem yang berat, mulailah latihan yang sebenarnya! Kamu akan menggunakan jam kedua untuk kembali dan memeras setiap ons efisiensi keluar dari urutan yang telah dikenal, menyatupadukan teknikmu dan membangun ketahanan pada saat yang sama.
Cara yang baik melakukan hal ini adalah "Rule of threes:" Tiga rangkaian dari tiga wakil dengan tiga menit istirahat. Misalnya, kamu telah menghabiskan sepasang seisen (session) melatih problem yang sulit selama jam pertama, dan sekarang hampir terasa mudah. Waktunya pindah pada jam kedua.

Problem ini menjadi rangkaian pertamamu. Sekali kamu memulainya, kemudian istirahatlah selama tiga menit. Mulai lagi, tiga menit istirahat lagi. Kamu mulai yang ketiga kalinya. Sekarang ambil 10 menit istirahat. Ulangi pola ini untuk dua atau lebih problem dan kamu telah berlatih.

Kurang adalah lebih. Untuk pemanjat pemanjat pemula, pencapaian prestasi yang terbesar datang lewat teknik yang bertambah baik - bukan dari kekuatan ataupun ketahanan. Dan teknik paling baik dikembangkan jika tubuh mendapat istirahat yang baik. Untuk alasan-alasan ini, paling sedikit istirahatlah sehari antara hari-hari latihanmu, atau lebih jika kamu merasa kelelahan. Jangan takut menghabiskan begitu banyak waktu ditempat tidur. Satu dari hal-hal yang luar biasa tentang bouldering ini adalah bahwa kamu lebih dapat meningkatkan panjatanmu dalam latihan dua jam dibandingkan selama semalaman tegang dengan toprope. Jangan terintimidasi dengan dinding-dinding bouldering dan mutan-mutan remaja yang memamjat bersama mereka. Bouldering di dalam ruangan tidaklah harus brutal / kasar, dan itulah salah satu cara terbaik bagi pemanjat-pemanjat pemula untuk meningkatkan tehnik-tehnik mereka


Spoiler for Sepatu Panjat:
Quote:
Dalam panjat tebing, sepatu mempunyai perananan yang sangat penting. Bukan sekedar melindungi kaki, tapi membantu Anda untuk menginjak, mencengkeram dan berinteraksi dengan batu-batu yang akan Anda lewati. Oleh karena itu, sepatu panjat tebing didesain dengan bentuk yang berbeda-beda untuk setiap situasi. Maka jangan heran kalau Anda menemukan banyak sekali tipe sepatu panjat tebing. Untuk memilihnya Anda harus menyesuaikan dengan bentuk kaki Anda dan juga medan yang akan Anda lalui. Ada tiga hal yang dapat Anda jadikan pertimbangan untuk memilih jenis sepatu, yaitu:

Pertama. Buat rencana panjat tebing Anda. Langkah pertama untuk mendapatkan sepatu yang tepat adalah menentukan jenis, lokasi dan tujuan petualangan Anda. Di sini Anda sudah memilih jenis panjat tebing yang akan Anda jalani, apakah pada tingkat permulaan, menengah dan mahir. Terus tentukan lokasi dan rute yang akan dilewati. Selanjutnya Anda tinggal memilih sepatu, apakah untuk keperluan panjat tebing dalam jangka panjang, seharian atau cuma beberapa saat. Anda perlu juga membedakan jenis sepatu untuk kompetisi dan rekreasi. Ingat pula teknik panjat yang akan Anda pakai, apakah edging, smears, pocket climbing, crack climbing atau kombinasi dari berbagai teknik itu.

Memang, tidak ada sepatu yang bisa memenuhi semua kriteria di atas. Namun, setidaknya Anda bisa mencari sepatu yang hampir memenuhi kebutuhan Anda. Misal, Anda seorang pemula maka Anda bisa memilih sepatu serba guna yang dapat Anda pakai untuk berbagai lokasi pemanjatan. Jika Anda seorang panjat tebing senior, Anda bisa memilih jenis sepatu yang sesuai dengan lokasi khusus yang akan Anda lewati. Perfoma sepatu pemanjatan tergantung pada bahan yang dipakai serta cara pembuatannya. Berikut ini ada beberapa perbedaan dan perbandingan dari setiap jenis sepatu:

Shoe height / cut. Bentuk sepatu yang tinggi memberikan perlindungan ekstra pada kaki dan pergelangan kaki Anda dari goresan dan benturan. Sebaliknya, sepatu pendek (cut) kurang bisa melindungi pergelangan kaki, tetapi memberikan kebebasan kepada Anda untuk bergerak dan menggunakan teknik-teknik panjat tebing tingkat tinggi.

Basic design. Sepatu yang dilengkapi dengan tali dan penutup lebih mudah untuk dipakai dan dilepas. Sepatu seperti ini sesuai untuk pemanjatan di batu-batu besar atau pun dipakai untuk olah raga biasa. Bahkan kadang-kadang setelah petualangan sepatu ini dipakai untuk kegiatan sehari-hari.

Support/midsole stiffness. Sepatu support stiffness memiliki alas (sole) yang tinggi sehingga bisa melindungi kaki Anda dari batu-batu kecil. Sedangkan sepatu midsole stiffness yang mempunyai alas sepatu pendek memberi kebebasan kepada Anda untuk bergerak, termasuk melewati lubang-lubang batu yang kecil. Bahkan sepatu jenis ini bisa memudahkan Anda untuk menerapkan teknik pemanjatan yang sulit (misal smearing.

Toe profile. Bentuk sepatu yang meruncing dimana bagian depannya disesuaikan dengan bentuk jari kaki (seperti pada sarung tangan) sehingga membantu Anda untuk melewati celah-celah yang sempit. Sepatu tersebut nyaman dan enak untuk melakukan teknik smear.

Bentuk sepatu. Setelah Anda mengetahui tipe-tipe sepatu seperti di atas maka pembicaraan selanjutnya adalah bagaimana sepatu itu dibuat. Walau masing-masing pabrik memiliki cara yang berbeda untuk membuat sepatu, namun teknik itu dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu semi flexed dan gambered. Semi flexed adalah cara pembuatan sepatu yang masih tradisional dan berdasarkan pada anatomi kaki manusia. Sepatu ini cocok untuk Anda yang masih berada pada tingkat pemula dan menengah. Sedangkan bagi pemanjat mahir Anda bisa memilih bentuk sepatu gambered. Bagian depan sepatu ini dibentuk sesuai dengan jari kaki, sehingga memungkinkan Anda untuk melewati tebing dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Bagi pemula, jarang yang memilih sepatu seperti ini.

Konstruksi. Konstruksi sepatu dapat dibedakan pula menjadi dua yaitu slip lasted dan board lasted. Bagian bawah sepatu slip lasted pendek sehingga sangat fleksibel dan sensitif. Dengan sepatu ini Anda bisa merasakan batu-batu yang Anda pijak. Sedangkan sepatu board lasted berbentuk tinggi termasuk bagian bawahnya, sehingga mampu melindungi kaki Anda.

Setelah membuat rencana panjat tebing dan menyesuaikan jenis-jenis sepatu yang cocok dengan rencana tersebut maka langkah selanjutnya adalah memusatkan perhatian pada kategori umum dan mencari sepatu yang nyaman buat kaki Anda.

Kedua. Fokus pada kategori umum. Sangat sulit bagi Anda untuk memilih sepatu yang memenuhi standar untuk semua situasi. Di dunia panjat tebing dikenal tiga kategori sepatu, yaitu:

All purpose. Sepatu jenis ini dipakai untuk panjat tebing secara menyeluruh, baik teknik crack, edge maupun smear. Sepatu ini sangat populer untuk pemanjat pemula, pemanjat umum dan pemanjat yang suka naik ke berbagai kondisi tebing. Tipe sepatu ini adalah tinggi (menutup mata kaki) sehingga bisa melindungi kaki. Selain itu desain sepatu tersebut juga nyaman untuk perlindungan.

High performance. Sepatu jenis ini dibuat untuk kompetisi panjat tebing dan rute-rute pemanjatan yang sulit. Desain sepatu ini pendek dan sangat ringan sehingga memudahkan Anda untuk melakukan teknik-teknik pendakian yang sulit.

Slippers. Bentuk sepatu ini mirip dengan kaki Anda. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai second skin. Dengan bentuk yang tipis dan tempat jari kaki, sepatu ini sangat sensitif terhadap batu-batuan. Sepatu slippers sesuai untuk latihan, panjat dinding maupun tebing yang memiliki batu-batu besar.

Sebelum Anda memutuskan untuk memilih sepatu yang sesuai, coba perhatikan sepatu itu secara detil, baik ketinggiannya, bagian bawahnya (sol), bahan sol serta bahan sepatu. Sebisa mungkin Anda memilih sepatu yang dibuat dari bahan kulit kualitas tinggi sehingga kenyamanan Anda benar-benar terjaga.

Ketiga. Pastikan kenyamanan sepatu. Salah satu pertimbangan Anda untuk membeli sepatu adalah faktor kenyamanan. Karena itu, cobalah sepatu yang Anda inginkan sebelum Anda membelinya. Sebaiknya, Anda mencoba sepatu pada siang hari serta mengenakan kaos kaki. Jika sepatu yang Anda pilih memiliki tali, kenakan tali itu seluruhnya. Pastikan bahwa kaos kaki Anda tidak terlipat sehingga sepatu itu benar-benar sesuai dengan ukuran Anda. Pilihlah sepatu yang pas, tapi jangan terlalu sempit karena kaki Anda bisa sakit. Usahakan sepatu yang ramping. Lebih baik agak lebar dibanding terlalu panjang. Dengan demikian jari kaki Anda bisa menapak kuat pada tebing yang Anda lewati.

Jika Anda merencanakan untuk panjat tebing dalam jangka pendek dan rute yang sulit maka pilihlah sepatu yang rendah dan lebih ketat. Sepatu seperti ini mempunyai kontrol yang optimal. Namun bila Anda akan melewati jalur yang panjang dan general climbing maka pilihlah sepatu yang pas tetapi tetap nyaman. Bila sepatu yang Anda pilih mempunyai tempat jari (kantong jari kaki) maka perhatikan ukuran itu. Jangan sampai jari-jari kaki Anda harus terlipat karena kesempitan.

Selain itu Anda pun harus memperhatikan ukuran sepatu. Maklum, standar ukuran yang dipakai berlainan, baik di Eropa, Amerika maupun Inggris. Satu hal lagi yang harus Anda camkan, yaitu persoalan kaos kaki. Ada sementara orang yang memilih panjat tebing tanpa menggunakan kaos kaki karena merasa lebih sensitif terhadap jalur yang dilewati. Namun ada pula yang senang mengenakan kaos kaki ketika melakukan pemanjatan. Nah, sekarang pilihan ada di tangan Anda.


Spoiler for Climbing Tips:
Quote:
Jika anda baru dalam hal rock climbing, tips berikut ini hanya untuk mengingatkan anda.

1. Carilah petunjuk yang benar sebelum melakukan pemanjatan diluar.
Jangan berasumsi bahwa kemampuan anda yang dipelajari dan didapat dari climbing gym (wall) bisa ditranslate kan pada tebing alam. Dan jangan berasumsi
teman yang berpengalaman akan tahu semua yang anda ingin ketahui.

2. Formulakan rencana pemanjatan dengan teman memanjat anda sebelum memulai pemanjatan.
Jika anda bertindak sebagai leading, apa yang akan ada lakukan di puncak? akankah anda melangkah, meloncot atau tiarap? Apakah panjang tali anda cukup untuk membawa kembali anda turun? Walaupun anda belaying atau toproping, sangat perlu untuk tahu mengenai hal ini. Banyak pemanjatan yang eror dikarenakan oleh rencana pemanjatan mereka tidak jelas dari awal pemanjatan.

3. Back up system, dan jangan pernah percayakan hidup anda pada single pro.
Gunakanlah pengaman ganda, jadi jika satu point gagal maka yang lain akan menjadi penyelamat anda. Sebagai contoh, jangan pernah top rope dengan hanya satu pengaman (termasuk bolts), buatlah dua meskipun berarti akan menelantarkan satu carabiners. Pada rute sport, cantelkan pada dua buah pengaman dengan mengunakan dua buah quickdraws, bukan satu. Untuk lebih yakin mintalah seluruh tim anda untuk mengecek simpul, buckle harness dan alat belay.

4. Toprope lah pada peralatan pribadi anda bukan pada fixed anchors.
Tali akan membuat anchors menjadi friksi. Lakukanlah sesuatu untuk pemanjat lain dan jagalah ketahanan usia dari anchors dengan melakukan toproping dari quickdraws anda sendiri, atau mungkin lebih suka dengan screwgate carabiners pada sling. Bisa juga anda menjaga setiap anchor dan tali anda dengan cara rappeling dari pada turun dengan slacking.

5. Cek system sebelum anda memutuskan untuk turun.
Jika anda turun akan turun, pastikan belayer anda siap menahan tubuh anda lewat tali sebelum anda melepaskan pengaman anda. Jika anda turun dengan rappeling, lakukanlah ini buat anda. Dengan cara ini anda bisa yakin bahwa anda terikat dengan benar pada tali dan sistemnya benar-benar dilakukan dengan benar. Juga jangan lupa untuk memeriksa anchors pengaman, jika anda tidak yakin dengan pengaman tersebut, buatlah pengaman backup sebelum turun.

6. Komunikasi
Climbing atau pemanjatan adalah kegiatan partnership. Jika anda tidak bisa berbicara atau berteriak, maka ciptakanlah suatu sistim komunikasi diam, seperti menarik-narik tali, yang akan menjadikannya sebagai pengirim pesan pada partner anda. Sekali lagi rencanakanlah sistem komunikasi sebelum anda meninggalkan permungkaan tanah.

7. Jika anda tidak yakin, jangan lakukan
Jangan mencoba untuk bergantung dan turun dengan memakai anchor yang anda tidak percayai 100% apakah tidak terikat atau terikat secara benar. Jika tidak yakin sebaiknya anda turun dengan cara rappeling, dan buatlah anchor backup sebelumnya.

Bersahabat dengan Tebing & Dinding

Bersahabat dengan Tebing & Dinding


ImageMENANTANG, Untuk menaklukan medan yang berat, seorang pemanjat tebing harus menguasai teknik dan butuh persiapan fisik. Di Indonesia panjat tebing/dinding terus diminati. Bahkan, aktivitas ini telah menjadi tren sekaligus olahraga tantangan yang didominasi generasi muda. Persiapan apa saja yang diperlukan?

KETINGGIAN dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan oleh sebagian besar masyarakat. Namun, penggila panjat tebing/ dinding (rock climbing) menganggap ketinggian merupakan sesuatu yang dapat dijadikan objek untuk merangsang adrenalin mereka melalui aktivitas memanjat.

Anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) Divisi Rock Climbing Dadang Sukandar mengungkapkan, panjat tebing merupakan bagian dari pendakian gunung (mountaineering). Mountaineering mengharuskan pendaki menaiki dan menuruni perbukitan.

Semakin tinggi jalur pendakian, semakin curam juga tebing yang harus didaki.Secara otomatis,dia menuturkan, dibutuhkan pula teknik-teknik yang lebih spesifik, salah satunya adalah teknik memanjat. Panjat tebing dapat diartikan sebagai pendakian pada tebing-tebing batu atau dinding karang yang membutuhkan peralatan, teknik, dan metode- metode tertentu.

Pada perkembangannya, aktivitas ini terbagi dua. Dadang menjelaskan, dilihat dari kategorinya, aktivitas memanjat dapat dibagi dua bagian, yakni panjat tebing (adventure climbing) dan panjat dinding (sport climbing). Adventure climbing merupakan aktivitas yang dilakukan dengan tujuan untuk pertualangan. Media aktivitasnya meliputi tebing-tebing di alam terbuka.

Adapun sport climbing dilakukan di media dinding atau papan buatan. Aktivitas ini biasanya dilakukan untuk menjaga stamina dan kebugaran tubuh dan lebih sering dikompetisikan. Bukan berarti adventure climbing tidak bertujuan untuk menjaga stamina tubuh. Terlepas dari teknik dan metodenya,dibandingkan panjat tebing, memanjat dinding buatan relatif lebih mudah.

Dinding buatan biasanya didirikan di lokasi-lokasi keramaian, seperti kampus, mal atau pusat olahraga. Kondisi ini berbeda dengan panjat tebing, seorang pemanjat harus melakukan perjalanan panjang untuk mencapai kaki tebing sebelum melakukan pemanjatan. Tak jarang, base camp pemanjatan harus dicapai setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari. Terlepas dari perbedaan di atas, baik panjat tebing maupun panjat dinding telah menjadi aktivitas yang populer di masyarakat, khususnya kalangan remaja.

Bagi generasi muda, aktivitas ini merupakan kegiatan positif dan konstruktif. Melalui kegiatan ini,kita dapat menggali seperangkat nilai positif yang berpotensi untuk dikembangkan, antara lain pembentukan watak dan karakter, kepribadian, memupuk jiwa sportif, dan penuh semangat juang, serta sebagai sarana alternatif untuk penyaluran bakat dan prestasi.

Selain itu, aktivitas ini juga baik untuk terapi khusus bagi mereka yang selama ini takut terhadap ketinggian. Dengan berlatih, lambat laun ketakutan akan ketinggian sedikit demi sedikit dapat dihilangkan. Ukuran kesuksesan panjat tebing/dinding ini adalah berhasil mencapai puncak tanpa terjatuh.

Namun “seni” panjat tebing/dinding ini adalah menyelesaikan masalah di saat pemanjat menempatkan tubuh, mencengkeram pegangan, dan memijakkan kakinya agar tidak terjatuh. Jika aliran gerak tubuh ini meliuk lancar, maka mereka yang di bawah akan melihatnya sebagai suatu tarian vertikal yang seakan menentang gaya tarik bumi.

Butuh Persiapan Fisik dan Mental

Semua orang bisa saja melakukan olahraga menantang ini. Tidak ada syarat khusus bagi seorang pemanjat.Meski demikian, sebagai aktivitas yang ekstrem dan penuh tantangan, panjat tebing atau panjat dinding memerlukan keberanian, keterampilan, persiapan mental, dan fisik yang prima.Tanpa mental yang baik, seseorang tidak dapat menikmati pencapaian di ketinggian yang antigravitasi ini.

Anggota Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bogor Wahyu Indrawan mengatakan, secara umum ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan sebelum melakukan panjat tebing/ dinding. Pertama adalah perlunya latihan yang dilakukan secara rutin. Kedua, penguasaan medan dan perlengkapan. ”Seperti halnya olahraga lainnya, panjat tebing juga memerlukan persiapan fisik, selain mental,” ungkap Wahyu. Fisik yang tidak prima akan menghambat proses pemanjatan.

Agar pemanjatan berjalan sukses, seorang pemanjat tebing perlu latihan agar stamina dapat tetap terjaga. Aktivitas ini tidak hanya bertumpu pada bagian kaki dan tangan. Seluruh otot yang terdapat di dalam tubuh akan bekerja sama beratnya dengan otot-otot kaki dan tangan. Persiapan fisik terbaik adalah melakukan angkat badan. Sebelumnya perlu juga dilakukan lari-lari kecil dan senam untuk memperkuat jantung dan paru-paru.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah melatih otot jari dan lengan, otot pundak dan pangkal lengan. Karena kunci kesuksesan pemanjat dalam menyelesaikan jalur tanpa jatuh adalah kekuatan jari mencengkeram pegangan. Selain mengandalkan kekuatan fisik dan otot, aktivitas ini juga memerlukan strategi. Di dalam menyelesaikan satu rute pemanjatan, diperlukan otak untuk mengatur strategi agar puncak lebih mudah dan lebih cepat diraih.

Selain persiapan fisik dan latihan,Wahyu menambahkan, hal lain yang perlu diperhatikan sebelum memanjat adalah perlu mengetahui karakteristik tebing atau dinding tersebut sebagai jalur pemanjatan. ”Cari informasi, apakah jalur itu sudah pernah dipanjat atau belum,tingkat kesulitannya seperti apa, karena hal ini akan berpengaruh pada peralatan yang dibawa. Jika jalur tersebut belum pernah dipanjat, tentunya memerlukan peralatan yang lebih spesifik lagi,” ungkapnya.

Berkembang Bersama Pendakian Gunung

ImagePANJAT tebing atau panjat dinding tak lepas dari kegiatan pendakian gunung (mountaineering). Di saat mereka mencapai ketinggian tertentu, maka akan dibutuhkan teknikteknik pendakian khusus dengan cara memanjat.

Kegiatan mendaki gunung yang dibarengi teknik memanjat sebenarnya telah dilakukan manusia sejak berabad-abad lalu. Sejarah mencatat ketika pada 1786 Dr Paccard berhasil mencapai puncak Mount Blanc (4.087 meter dpl). Pada masa itu pendakian dan panjat tebing sudah menjadi hobi atau olahraga.

Selanjutnya, puncak-puncak pegunungan Alpen yang dikenal sebagai puncak yang hanya dapat didaki mempergunakan teknik- teknik memanjat tebing, mulai didaki orang. Hingga akhirnya, Edmunt Hillary dan Tenzing Norgay dalam suatu ekspedisi yang dipimpin John Hunt pada 1953 berhasil memuncaki Everest, sebuah puncak yang menjadi impian para pendaki di dunia.

Untuk mencapai puncak,mereka harus memanjat tebing. Sama halnya di Indonesia, panjat tebing seiring dengan berkembangnya teknik mendaki. Klub Gladian Pencinta Alam pada sekitar 1975 melakukan pertemuan dengan para pencinta alam di Gunung Citatah, Padalarang, Jawa Barat, mulai mengajarkan teknik panjat dan turun tebing.

Satu tahun kemudian, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB Harry Suliztiarto memperkenalkan panjat tebing di tempat yang sama. Kegiatan ini kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya organisasi alam bebas yang mengkhususkan pada kegiatan memanjat. Bersama tiga rekan sesama mahasiswa ITB, ia mendirikan Skygers Amateur Rock Climbing Group.

Seiring perkembangannya, Skygers mulai membuka kursus panjat tebing yang disambut antusiasme para pemanjat dari berbagai provinsi dan berhasil menyebarluaskan olahraga panjat tebing di Indonesia. Pada 1980 panjat tebing memasuki era baru, pada masa ini kegiatan ini bukan lagi bersifat petualangan, tetapi telah menjadi olahraga prestasi. Perkembangan ini dimulai saat digelar lomba panjat tebing alam di tebing Pantai Jimbaran, Bali, pada 1987.

Kemudian pada 1988,empat pemanjat asal Prancis memperkenalkan panjat tebing buatan (wall climbing) di Indonesia, yang didukung dan diprakarsai oleh Menpora dan Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia. Pada kesempatan tersebut dibentuk pula wadah sebagai tempat menyalurkan aspirasi dan hobi kegiatan panjat tebing di Indonesia, dengan nama Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Ketuanya adalah Harry Suliztiarto– pemanjat legendaris yang sempat merayapi atap Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pada 1990, untuk pertama kalinya diadakan lomba panjat dinding buatan, dengan tinggi papan 15 meter yang menjadi awal sejarah dimulainya lomba panjat tebing buatan di Indonesia sampai saat ini. Sejak persentuhan tersebut, panjat dinding terus berkembang. Tiap tahun popularitasnya menunjukkan grafik yang menaik.

Dari Pulau Jawa, kegiatan ini menyebar ke berbagai daerah. Pada 1991, digelar kejuaraan nasional panjat dinding yang pertama di Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya ada kejuaraan dan diikuti pemanjat se-Indonesia, tetapi julukannya belum lagi kejuaraan nasional dan diselenggarakan di Jawa dan Bali saja.

Menyiasati Peralatan Mahal

ImageUNTUK melakukan hobi ini diperlukan beberapa peralatan khusus yang wajib dipakai selama pemanjatan. Anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) Divisi Rock Climbing Dadang Sukandar mengatakan, peralatan wajib yang diperlukan adalah tali kermantle, pasak atau paku tebing, sisi pegas, figure of 8 (descender), Gri-gri, carabiner screw gate, carabiner gate, carabiner bent gate, serta runner (dua carabiner gate dan bent gate yang disatukan dengan memakai quickdraw sling).

Namun, untuk para pemanjat pemula, alatalat tersebut tidak semuanya harus dimiliki.Paling tidak, mereka bisa memiliki webing, harness, dan sepatu sebagai peralatan awal memanjat. Peralatan tambahan lainnya adalah chalk bag dan magnesium karbonat yang berfungsi untuk menjaga tangan agar terhindar dari keringat. Setiap alat mempunyai kapasitas dan kekuatan yang terukur. Ada acuan angka yang menunjukkan kesanggupan alat untuk menahan beban.

Sebagai contoh, carabiner (cincin kait) sanggup memikul beban sampai 2.500 kg atau harness (pengaman tubuh) dengan kekuatan 1.500 kg. Dadang melanjutkan, karena olahraga ini disertifikasi tingkat keamanannya, peralatan yang diperlukan harus disesuaikan pula dengan keamanan si pemanjat. Selain itu, di Indonesia sendiri belum banyak perusahaan yang memproduksi peralatan panjat ini sehingga sebagian besar masih harus diimpor.

Hal ini menyebabkan harga peralatan tersebut menjadi mahal. Anggota Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bogor Wahyu Indrawan mengatakan, untuk harness saja dapat mencapai harga Rp600.000–Rp700.000, sedangkan tali kermantle per 50 meter mampu mencapai harga Rp1,2 juta–Rp1,5 juta.“Khusus untuk sepatu panjat, sudah banyak beredar sepatu panjat buatan lokal seperti dari Bandung atau Surabaya,” ungkap Wahyu.

Untuk menyiasati harga peralatan yang tergolong tinggi, Dadang Sukandar menuturkan, biasanya alat-alat tersebut disiasati para pemanjat secara kolektif. “Di antara klub-klub pemanjat biasanya mereka patungan untuk beli alat,” ujar Dadang.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan

Image1.Dapatkan informasi yang up-to-date mengenai tebing dan lokasi pemanjatan jauh-jauh hari sebelum perjalanan dimulai.

2. Jika ada penutupan akses ke tebing panjat,jangan dilanggar dan cari tempat lain untuk dipanjat.

3. Gunakan jalan setapak yang sudah ada meskipun lebih jauh dan lebih lama untuk dicapai. Jangan membuat jalan pintas baru yang hanya akan mengakibatkan timbulnya erosi tanah.

4. Berkemahlah di tempat yang telah disediakan atau yang biasa digunakan.

5. Gunakan kapur magnesium seperlunya. 6.Turuti aturan, tradisi, etika kampung sekitar di mana kamu memanjat. Hormati kuncen/ kepala desa dan ramah-tamahlah dengan penduduk sekitar.

sumber : http://catros.wordpress.com/2007/05/08/bersahabat-dengan-tebing-dinding/