28 April 2011

Aktivitas dan Ketinggian

Aktivitas dan Ketinggian

Ketinggian Dasar
Melakukan semua bentuk kegiatan alam bebas menjadi sebuah tantangan tersendiri seperti penambahan ketinggian. Bertentangan dengan kepercayaan umum, kemampuan untuk menghadapi ketinggian lebih sedikit hubungannya dengan kondisi fisik dan lebih berhubungan dengan masalah genetik. Kondisi medis tertentu seperti asma dan darah tinggi akan diperburuk oleh ketinggian.
Jika kita sedikit menggunakan akal sehat dan melakukan beberapa persiapan, kita akan mendapati bahwa kita akan mampu melakukan kegiatan alam bebas dengan semua cara sampai ketinggaian 15.000 kaki sedikit tidak nyaman dan juga masalah medis.

Level ketinggian 3.500 kaki dpl (± 1200 mdpl)
Mayoritas populasi Amerika Utara hidup pada batas ketinggian ini. Kebanyakan orang kecuali untuk yang bermasalah dengan cardiopulmary dapat melakukan hampir semua aktivitas pada ketinggian ini. Orang yang hidup pada level ketinggian ini kegiatan mereka hampir tidak mendapat dampak ketika bergerak pada ketinggian ini dimana tekanan udaranya sekitar 12 psi.

3500 sampai dengan 6000 kaki (± 1200 s/d 2000 mdpl)
Kebanyakan orang sehat biasa akan mempunyai sedikit masalah pada ketinggian ini. Orang yang bertempat tinggal dibawah ketinggian 2500 kaki akan mulai mengalami kesulitan bernafas ketika mereka ada pada ketinggia diatas 5000 kaki. Orang yang mempunyai masalah caardopulmary akan mendapati masalah serius pada batas ketinggian ini dan harus berkonsultasi fisik sebelum mengunjungi atau memesaan aktivitas olah raga outdoor. Wanita hamil juga akan mengalami masalah pada ketinggian ini sebanding dengan kenaikan kebutuhan oksigen yang diambil oleh janin pada sistem mereka.

6000 sampai dengan 10000 kaki (± 2000 s/d 3400 mdpl)
Pada ketinggian ini beberapa orang bisa memulai mangalami masalah yang berhubungan dengan ketinggian. AMS (Acute Montain Sickness) menunjukkan gejala yang muncul pada beberapa ketinggian diatas 6000 kaki.

Pada 10.000 kaki, atmosfer hanya 50 % dari yang ditemukan pada ketinggian 3.500 kaki dpl. Bernafas akan menjadi sulit, bahkan ketika dalam kondisi fisik yang bagus. Wanita hamil dan orang dengan masalah cardiopulmonary dianjurkan untuk berkonsultasi sebelum menghabiskan waktu pada ketinggian ini.

10.000 sampai dengan 14.000 kaki (± 3400 s/d 4700 mdpl)
Pertama kali berada diatas ketinggian 10.000 kaki, oksigen terdiri dari atmosfer yang mencapai level yang sedikit membahayakan. Tidak hanya kemungkinan AMS, tapi juga resiko HAPE (high Altitude Pulmonary Edema) secara cepat bertambah pada

ketinggian lebih dari 12.000 kaki. Oleh karenanya, pilot yang terbang pada ketinggian lebih dari 10.000 kaki dianjurkan untuk meiliki oksigen cadangan. Kebanyakan orang yang melakukan meoutenereeng akan mendaki pada ketinggian ini. Wanita hamil, anak dibawah 2 tahun, dan orang yang mempunyai masalah cardiopulmonary seharusnya tidak pergi ke ketinggian yang lebih dari 10.000 kaki. Komplikasi medis yang serius dapat terjadi pada batas ketinggian ini.

14.000 sampai dengan 18.000 kaki (± 4700 s/d 6000 mdpl)
Diatas ketinggian 14.000, seseorang memasuki ketinggian yang ekstrim. Atmosfer dapat hanya 40 % dari yang ditemukan di ketinggian 3.500 kaki, dan tekanan udara dapat turun sampai 10 psi, yang menyebabkan tekanan psikologis pada tubuh. AMS, HAPE dan HACE (High Altitude Cerebral Edema) dapat dialami pada batas etinggaian ini. Di Amerika Utara, hanya pendaki yang ekstrim yang akan melebihi ketinggian ini untuk waktu tertentu. Batas ketinggian ini akan berbahaya untuk beberapa orang, bahkan pada kondisi tubuh yang bagus.

Diatas 18.000 kaki (± 6000)
Keinggian diatas 18.000 kaki juga disebut dengan ‘zone Kematian’. Tekanan udara jatuh sampai dengan 7 psi, tubuh, bahkan dengan cadangan oksigen benar-benar mulai mati. HAPE dan HACE yang hebat dapat terjadi pada ketinggian ini dan gejala AMS hampir secara terusmenerus dialami. Seharusnya hanya pendaki yang sudah saangat berpengalaman yang bertualang pada ketinggian ini dan harus tetap waspada terhadap gejala HAPE dan HACE.

SUMBER : http://catros.wordpress.com/2007/10/26/aktivitas-dan-ketinggian/

Ada Apa Dengan Sepatu Mendaki Gunung ?

Ada Apa Dengan Sepatu Mendaki Gunung ?

Bahan sepatu yang baik harusnya bisa memenuhi empat syarat, yakni; membuat sepatu terasa lebih nyaman, bisa memperkecil risiko kulit kaki melepuh, bisa menyerap keringat dari kaki, dan mampu cepat kering.

Banyak produksi sepatu sekarang lebih memilih menggunakan bahan sepatu bermembran antiair tapi tetap dapat bernapas, seperti bahan Sympatex atau Gore-Tex. Karena bahan jenis tersebut menjamin tidak akan masuknya berbagai jenis cairan dan menjamin tercukupinya syarat bahan sepatu yang baik.

Jenis sepatu yang baik sekarang biasanya menggunakan tiga jenis lapisan sol. Sol terluar (outer sole), paling bagus terbuat dari bahan karet campuran. Karena dapat mengurangi risiko terpeleset bila sedang melakukan aktivitas di alam bebas. Cobalah lihat sol bagian terluar tersebut, yang baik biasanya memiliki pola tapak bergerigi dan pada tumit terdapat pola setengah bulat sehingga dapat menggigit tanah.

Dua lapisan sol yang lain adalah sol tengah (mid sole) dan sol terdalam (in sole). Sol tengah biasanya terbuat dari plastik atau lapisan nilon yang biasanya berjenis sangat tipis. Sementara kaku tidaknya lapisan tersebut tergantung dari dan untuk apa sepatu ini dibuat. Lapisan sol tengah yang kaku dibuat untuk pendakian gunung salju, sedangkan lapisan sol tengah yang semi kaku digunakan pada sepatu yang diperuntukan untuk trekking sampai dengan scrambling.

Sol bagian terdalam sepatu biasanya diambil dari bahan busa empuk. Tapi kebanyakan sepatu sekarang tidak didesain untuk mengoptimalkan fungsi ‘in sole’ tersebut. Fungsi sol terdalam yang mendukung kenyamanan dan kualitas peredaman terhadap kejutan sangat kecil.

Jika anda menginginkan lapisan ini bekerja lebih memuaskan disarankan Anda membuat anggaran lebih untuk hal tersebut. Sampai sekarang mulai banyak perusahaan sepatu perusahaan sepatu yang khusus memproduksi lapisan dalam sepatu seperti ini. Perusahaan seperti Spenco dan Sorbhotone mungkin menjadi satu-satunya pilihan yang ada sekarang. Meskipun ternyata masih sulit didapatkan di Indonesia. Tapi minimal Anda bisa membuat sendiri lapisan dalam ini dengan memotong lapisan busa tipis yang dilapisi kain bersifat menyerap cairan.

Pola Kaki

Bentuk sepatu bagaimana yang cocok untuk kaki kita perlu juga kita ketahui. Seperti kita ketahui ada berbagai jenis ukuran dan bentuk kaki manusia. Pola tapak yang berbeda membuat kita harus lebih teliti dalam memilih sepatu. Orang dengan pola tapak kaki lebar harus memilih sepatu dengan pola tapak lebih lebar, daripada sepatu yang mempunyai pola tapak sempit. Sekarang banyak perusahaan membuat sepatu yang disesuaikan dengan kelebaran tapak. Karena, biasanya sepatu untuk wanita didesain lebih pendek daripada untuk pria.

Semua gambaran di atas tentang bentuk sepatu tidak dapat hanya dilihat saja untuk mengetahui bagus tidaknya, tapi juga harus dirasakan dengan memakainya. Rasakan semua bagian dalam sepatu, termasuk lapisan busa yang ada di antara bagian atas leher sepatu dan rasakan juga bahan pelapis sepatu. Sepatu yang lebih rendah mutunya memiliki lapisan busa yang mempunyai fungsi penyerapan sedikit dan memerlukan waktu lama untuk kering.

Dalam kondisi beraktivitas di pegunungan atau alam bebas pilih sepatu yang memiliki lapisan pelindung mata kaki dan mempunyai lidah sepatu panjang serta menyatu dengan leher sepatu. Bagian ini kalau bisa ada lapisan nylon atau plastik di bagian dalamnya, ini dapat dirasakan di sekitar bagian leher dan lidah sepatu. Lapisan busa yang dilindungi plastik ini dapat mendukung kenyamanan sepatu dan berguna untuk melindungi kaki. Bagian leher sepatu yang menutup hingga mata kaki, melindungi kaki dan mata kaki dari terantuk batu dan terkilir. (Sulung Prasetyo S)

Sumber : http://catros.wordpress.com/2007/07/03/ada-apa-dengan-sepatu-mendaki-gunung/

50 Tahun Everest ”Takluk” Sebuah Kemerdekaan Ikhtiar

50 Tahun Everest ”Takluk” Sebuah Kemerdekaan Ikhtiar

MENAKLUKKAN puncak Everest melalui kegiatan pendakian kerap dipandang sebagai suatu bagian kemenangan dari “pegunungan ambisi manusia” semenjak 50 tahun lalu. Setidaknya, begitulah catatan yang cenderung emosional meski rasional di mata pendaki elite Barat. Cipratan nilai keberhasilan pendakian oleh Sir Edmund Hillary serta Tenzing Norgay separuh abad yang lalu itu masih tetap bertahan hingga kini dari balik bingkai kacamata umumnya pendaki.
Setidaknya, citra demikian pun tetap terpancar dari kesimpulan Erik Weihenmayer, penulis buku legendaris Touch the Top of The World serta pendaki buta yang sudah mengoleksi keberhasilan menggapai puncak-puncak tertinggi di tujuh kontinen bumi ini. Sering dijuluki oleh pendaki sebagai suatu status yang jauh lebih terhormat dan bermoral ketimbang menggapai puncak “tampuk kekuasaan semu” lainnya.

Di tahun 2000 lalu, Babu Chiri Sherpa — Sherpa yang paling termasyhur di Nepal hingga kini — mendaki dari base camp hingga ke puncak Everest dengan hanya menghabiskan waktu di bawah 16 jam. Namun, sebagian penghuni dunia — khususnya para pendaki gunung — selalu tertantang untuk mempelajari, bagaimana hingga akhirnya puncak tertinggi di atap langit bagi bumi ini bisa ditaklukkan, di saat Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay bulan Mei tahun 1953 lalu mesti membekali diri dengan botol-botol oksigen yang beratnya mencapai lebih dari tiga kali berat botol oksigen di era canggih kini.
Kedua pionir penakluk Everest itu merampungkan rencananya tanpa dilengkapi piranti radio komunikasi sekalipun, yang kini bisa begitu ringan dijinjing para pendaki era modern. Sejarah puncak Everest adalah sejarah dunia modern dengan segala tantangan-tantangannya dan pengkianatan — beserta kesempatan-kesempatan yang tak tertandingi (terbandingkan) bagi ikhtiar manusia.

Khususnya bagi pendaki semacam Erik Weihenmayer, puncak Everest telah meletakkan realitas secara tepat bahwa suatu perjalanan petualangan yang dimulai oleh pendaki-pendaki elite juga mampu ditempuh oleh seorang pendaki yang buta (tanpa indra penglihatan) di tahun 2001. Di saat 50 tahun kemudian, seusai puncak itu dijejaki tapak-tapak sepatu boot Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.

Pesan Weihenmayer bahwa kita tidak dapat melangkah surut ke belakang dan menutup puncak gunung itu bagi isyarat mundur dari pembinasaan terhadap hadiah terbesar di abad modern dari khazanah kehidupan kemanusiaan; yakni kemerdekaan bagi seseorang individu untuk memilih jalan serta sikapnya secara mandiri.

Sejumlah pendaki memperdebatkan bahwa ekspedisi ke Everest tidak lagi menjadi suatu bagian dari pencapaian prestasi yang dianggap penting atau monumental dan bahwa barisan kontingen-kontingen pendaki yang berjejer menantikan agenda bagi musim pendakian menuju puncak sudah saatnya turun derajat kemurniannya seiring merosotnya kadar lingkungan dunia.
Di masa-masa Hillary, tiap tim dari para pendaki unggulan dipilih secara seksama oleh lembaga-lembaga prestisius seperti misalnya the Royal Geographical Society, masyarakat geografi Kerajaan Inggris. Kini, suatu “derap-global yang kelebihan beban” sehingga memungkinkan, dengan lebih banyak dukungan uang dibanding pengalaman pendakian pun ikut membuat seseorang pendaki yang belum dikenal juga memiliki akses setaraf! Siapa yang “kaya” dan punya “cukup spaonsor” serta koneksi diplomasi bisa “dikatrol” menerabas rintangan tumpukan deretan kontingen pendaki yang sudah lebih awal mendaftar.
Everest sudah memasuki era “imbal-beli kesempatan” di paruh keprihatinan akan merosotnya situasi lingkungan hidup kita. Meski begitu, pengaruh pencapaian puncak Everest terhadap nuansa pembebasan akan kemerdekaan tiap individu berikhtiar agaknya tetap lestari tercanangkan.

Lima puluh tahun berikutnya setelah penaklukan Hillary-Norgay, para pendaki top dari seluruh dunia tumpah-ruah berkumpul di lereng Everest untuk mengupayakan langkah terobosan dasar mereka masing-masing. Di tahun 1978, pendakian Reinhold Messner tanpa perlengkapan botol-botol oksigen telah membantah kebijakan konvensional bahwa saat yang dihabiskan tanpa bantuan oksigen di ketinggian di atas 7.900 meter — dalam “zona maut” — akan mengakibatkan kerusakan syaraf otak dan tak dapat dipulihkan.

Mayoritas eksper pendaki dunia berpikir, seseorang yang buta taklah punya kaitan urusan dengan puncak tertinggi dunia, khususnya setelah delapan pendaki tewas dalam serangan badai yang kini dikenal sebagai “musibah 1996? di zona Everest. Namun, pendaki buta Weihenmayer sudah memepersiapkan pelatihan selama 16 tahun, sebelum ia menaklukan puncak dunia tahun 2001 lalu. Ia telah memanfaatkan kelebihan indra kepekaan perasaan dan pendengarannya akan kawasan pegunungan itu dengan memanfaatkan kapak-kapak es dan tongkat-tongkat panjang.

Meski sudah menjalankan 16 tahun pelatihan, Weihenmayer di lapangan masih tetap menghadapi tantangan yang belum dihadapi, seperti runtuhnya bukit es Khumbu (Khumbu icefall), menghindari terjangan pecahnya bukit es setinggi 609 meter yang terdiri dari pecahan bola-bola es sebesar bola basket, sampai tumpahan bukit sebesar bangunan bertingkat.
Pecahnya medan-medan es yang berkontraksi serta meledak mewarnai perjalan 13 jam yang paling tak menyenangkan dan mengganggu bagi seseorang yang buta. Namun, akhirnya dengan pertolongan timnya, Weihenmayer berhasil menembus jatuhnya bukit es lebih dari 10 kali sehingga durasi dari tiap perjalanannya berkurang hingga lima jam.

Akhirnya, dokrin Everest yang bermuara kepada “The Hillary Step” diakui sebagai elemen pedoman hakiki tiap pendaki yang mendeskripsikan makna dari kesuksekan penaklukan “puncak dunia”, yakni torehkan tinta-tinta melalui jejak-jejak yang menguak tabir ambisi tiap individu menuju kepada ikhtiar akan kemanusiaan.

Sementara itu, kacamata belahan “dunia berseberangan” mengungkap, penggalangan nafsu di balik “ambisi mulia” Sir Hillary cuma berujung kepada kemubaziran belaka. Alasannya, kita yakin, prestasi dan ambisi sebagaimana halnya riwayat tiap pribadi, bukanlah sesuatu yang abadi.

sumber : http://catros.wordpress.com/2007/05/02/50-tahun-everest-takluk/

[Tips & Share] Technical Climbing

[Tips & Share] Technical Climbing

Tujuan nya adalah untuk mengerti istilah2 dan mengenal terlebih dahulu beberapa teknik yang ada.
Sumber dari majalah / katalog dan web site sebuah produk ternama.

1. Sports Climbing
2. Caving
3. Aid Climbing
4. Multi Pitch Climbing
5. Via Ferrata
6. Mountaineering
7. ice-climbing

info lengkap :
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4381165

23 Maret 2011

Yakinlah

gantungkan mimpimu di
langit tertinggi, yakinkan
diri bahwa semua
mungkin dicapai dengan
semangat, ketekunan
...diri dan kebijakan hati!