12 Mei 2011

SUPLEMENT MAKANAN UNT KEGIATAN ALAM

SUPLEMENT MAKANAN UNT KEGIATAN ALAM

Rekan2 pendaki,

Seperti yang sama2 sudah ketahui bahwa dalam sebuah perjalanan (pendakian) unsur logistik (makanan) merupakan urusan yang bukan main2, banyak dari kita salah menafsirkan persiapan pengadaan perbekalan yang keliru dimana semata-mata hanya memperhatikan faktor2 yang sangat sederhana, padahal jenis kegiatan outdoor (apapun kegiatannya) akan sangat menguras energi fisik dengan efek yg tidak main2 pada psikologis akibat kelelahan yang amat sangat dan supply gizi yang tidak berimbang.

Biasanya kita hanya berfikir sederhana dengan pengadaan makanan yang sekedar murah, ringan, mudah dan langsung hangat untuk dilahap (apalagi bila dipengaruhi oleh suhu udara sekitar yang jauh lebih dingin dari keseharian kita, makanan panas2 langsung caplok ujung2nya lidah kebakar dan mati rasa)

Bangsa kita sudah sangat akrab dengan bekal mie instant yang sehari-hari mudah ditemukan disegala tempat, murah untuk dibeli dan ringan. Apalagi untuk rekan2 mahasiswa yg terpaksa harus nge-kos dan terpisah jauh dari sanak keluarga jenis makanan ini sudah menjadi saudara dekat demi mengejar cita-citanya.Dan kalau kita coba lakukan penggeledahan pada setiap barang bawaan para pendaki bisa dipastikan makanan ini akan ditemukan. Padahal asal tahu saja jenis makanan ini seharusnya justru sebisa mungkin untuk dijauhi dalam kuantitas mengkonsumsinya, mengapa? Karena mie memiliki lapisan lilin agar tidak saling lengket dan tubuh akan sangat sulit mencernanya, dalam sebuah penelitian diketahui bahwa tubuh membutuhkan setidaknya 2-3 hari untuk mengurai lilin2 tersebut dan itupun tidak semuanya bersih terurai bahkan sebagian bisa menjadi potensi bibit kanker.

Makanya sering kali kalo kita habis makan mie maka akan terasa ngantuk banget kan..? itu akibat pencernaan yang harus bekerja keras mengolah dan secara reflek tubuh menyesuaikan dengan mengistirahatkan kerja syaraf2 motorik, tapi yang ada dari kita justru terpaksa geber karena harus summit attack (biasanya mie dikonsumsi pada saat menjelang pendakian puncak demi praktis dan hemat waktu)

Ini baru mie-nya, belum lagi zat-zat lain yang terkandung dalam bumbu penyedapnya… aah sudahlah nanti jadi kepanjangan nih, intinya bukannya nggak boleh makan mie tapi sebaiknya kasih jarak waktu untuk mengkonsumsi mie setidaknya 3 hari sekali. Kalo mau perutnya bisa tetap normal.

Sebenarnya kalau mau agak repot sedikit ada banyak kok alternatif makanan lain yang lebih bermanfaat dan gak harus mahal, sebelum lebih jauh mengenai pilihan menu yang bisa disajikan kita coba deh untuk cari tau bahan2 apa saja yang sebenarnya dibutuhkan untuk kebutuhan suplai tenaga kita.

Karbohidrat

Ini adalah bahan bakar utama tubuh kita, sebagai orang timur untuk keseharian kita mendapatkannya dari nasi yang kita makan sehari-hari. Tapi mungkin sebagian besar dari kita akan merasa ribet banget kalau harus nanak nasi diketinggian lebih dari 1500 dpl dan ditengah hutan lebat, walaupun bisalah dengan cara diliwet atau bikin nasi tim tapi konsekwensinya adalah sabar dan waktu. Belum lagi kalau harus bersihin kerak nasinya (gak masalah sih kalo ada yang doyan buat cemilan).

Sebenarnya ada bahan lain yang bisa dijadikan penggantinya seperti; kentang, umbi-umbian atau jagung. Biasanya saya memanfaatkan yang telah berbentuk tepung sehingga hanya butuh hitungan menit untuk memasaknya dengan campuran sedikit air. Contoh pada suatu perjalanan saya berbekal tepung beras dan umbi kentang sebagai pilihan makanan utama.

    * Pada hari pertama saya masak tepung beras dengan campuran sedikit daun pandan dan garam (inget bubur sumsum kan..?) sebagai teman makannya saya tambahkan kuah kaldu yang sudah dibungkus plastik rapat dari rumah dan tinggal dihangatkan, hmmm.. sensasinya beda. Mau tambah seru lagi..? biasanya saya buat soup yang bumbu dasarnya sudah saya buat didapur rumah, atau lauk pauk yg sudah setengah matang dan tinggal digoreng (dijamin bikin ngiler orang lain kalo dingin2 terciup harumnya ayam goreng hehehe..) intinya saya usahakan bahan2 dari alam tanpa pengawet dan sudah diracik dari rumah dulu biar praktis trus tinggal masukin ke toples bekas selai. Ini biasanya untuk menu makan siang atau malam lho jadi tergantung selera tapi untuk sarapan pagi biasanya saya makan dengan campuran gula merah cair saja.

    * Pada hari berikutnya saya rebus kentang, setelah matang saya kupas kulitnya lalu tinggal dihaluskan. Dimakan bersama tumisan daging cincang, daun bawang, seledri dan macaroni. Dagingnya bisa apa aja tuh bisa ayam, sapi atau jerapah (lho.?). bisa juga diberi variasi dengan telor ceplok dengan daging bacoon.. wiiih..

Protein

Dibutuhkan oleh tubuh kita untuk menggantikan sel-sel tubuh yang rusak atau memang yang secara periodik harus tergantikan. Untuk aktivitas luar ruang yang mana fisik kita harus dituntut untuk berhubungan langsung dengan faktor cuaca seperti suhu udara, sinar matahari dan kelembaban sangat menyiksa lapisan kulit.

Pada udara dingin dan kering akan mengakibatkan kulit kita harus bekerja keras dengan melepaskan sel-selnya sehingga kita akan lihat berupa kulit bersisik.

Unsur protein bisa kita dapatkan pada lauk makan dalam bentuk nabati dan hewani, untuk nabati kita bisa dapatkan dari tempe, tahu atau kacang2an dan ikan, daging atau telur dari hewani. Masih banyak lagi sumber pangan yang bisa banyak menyumbang protein.

Gula

Bahan makanan yang cepat dan mudah diserap tubuh untuk pembakaran sehingga pada kondisi fisik yang kritis sebaiknya diusahakan untuk segera diberikan dengan dosis yang layak.

Sebagai bagian dari daftar logistik gula bisa siapkan dalam bentuk; permen/coklat, minuman, kue ataupun produk siap santap lainnya.

Berhati-hati dengan takaran konsumsi bagi orang yang berpotensi atau pengidap diabetes, agar tidak mengakibatkan serangan kearah yang lebih serius.

Ini hanya sebagian gambaran bahwa kegiatan alam bebas itu harus diisi dengan kesenangan dan salah satunya kesenangan dari makanan yang kita konsumsi. Kalau kita liat orang barat punya pola masakan yg cenderung cocok untuk kegiatan ini (ada yg sudah coba untuk pilih makan salad digunung..?), para cowboy yg harus nomaden benar2 harus bisa menyediakan menu makanan yg imbang (bahkan kebiasaan makan steak mereka sampe bikin kita ketagihan tuh), para ranger dipegunungan alpen juga jago banget bikin aneka soup jadi siapa bilang urusan masak adalah urusan gender..?? justru sebenarnya para “pejantan tangguh” punya selera yg lebih sensitif, makanya coba aja lian direstoran, hotel dan kapal pesiar pasti chef-nya cowok, cuma buat kita2 biasanya bermasalah pada perasaan malas.

Memasak adalah sebuah hobby/kesenangan juga dan akan lebih asyik bila dua kesenangan digabungkan. Hal ini terbukti ketika saya berkunjung ke situ patenggang dan berkemah disana dengan istri dan anak yang baru berumur 2 tahun, karena rencana berkemah dekat danau maka tidak lupa peralatan pancing juga saya bawa.

Karena gak jago2 amat untuk urusan mancing akhirnya ya cuma dapat 3 ekor sepat dan 2 mujair, tapi inilah menu utama kami untuk dinner.. hehe.. akhirnya ikan digoreng dan disantap dengan kangkung bumbu rujak plus tempe goreng.. wuiih benar2 sensasi yg luar biasa, kita santap malam dipinggir danau diterangi bulan cerah yg lagi purnama penuh (biasanya saya liat tanggalan arab atau jawa untuk menentukannya). Nuansa yang hanya bisa ditemui oleh kita2 yg punya jiwa berani untuk lebih dekat dengan hasil ciptaan Nya.

sumber : http://catros.wordpress.com/2007/05/01/suplement-makanan-unt-kegiatan-alam/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

beri petuah bijakmu